Chapnews – Ekonomi – Gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal menerpa ratusan karyawan PT Karunia Alam Segar, produsen mi instan ternama Mie Sedaap, di Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Kabar ini mencuat menjelang momen penting Lebaran 2026 dan bulan Ramadan, memicu pertanyaan publik mengenai sosok di balik perusahaan raksasa ini serta alasan di balik kebijakan tersebut.
Ratusan buruh yang selama ini mengabdikan diri di fasilitas produksi Mie Sedaap di Gresik dikabarkan telah dirumahkan. Situasi ini tentu menimbulkan kekhawatiran, mengingat waktu PHK yang berdekatan dengan perayaan hari raya keagamaan.

Menanggapi situasi ini, manajemen PT Karunia Alam Segar angkat bicara. Melalui pernyataan resminya, perusahaan menjelaskan bahwa penyesuaian kapasitas produksi, termasuk restrukturisasi jumlah tenaga kerja, merupakan langkah strategis yang lazim ditempuh dalam industri manufaktur. Kebijakan ini diklaim esensial untuk menjaga efisiensi dan keberlangsungan operasional perusahaan di tengah dinamika pasar yang terus berubah.
Lebih lanjut, perusahaan memaparkan bahwa kebutuhan tenaga kerja tambahan pada periode puncak produksi biasanya dipenuhi melalui kemitraan dengan penyedia jasa. Sebaliknya, saat volume produksi menurun, penyesuaian jumlah karyawan menjadi tak terhindarkan, sesuai dengan perencanaan operasional yang telah ditetapkan. Manajemen menegaskan bahwa keputusan PHK ini murni didasarkan pada fluktuasi pasar dan kebutuhan produksi, bukan terkait dengan momentum spesifik seperti Ramadan. "Mekanisme ini merupakan praktik umum dalam industri manufaktur dan telah dijalankan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku," ujar Peter Sindaru, Human Resources & General Affairs Karunia Alam Segar, dalam keterangan resmi yang diterima chapnews.id pada Selasa (24/2/2026).
Di balik PT Karunia Alam Segar, terdapat gurita bisnis raksasa bernama Wings Group. Perusahaan produsen Mie Sedaap ini merupakan bagian integral dari Wings Food, salah satu divisi utama di bawah naungan Wings Group. Mie Sedaap sendiri, yang diluncurkan pada tahun 2003, telah menjelma menjadi salah satu merek mi instan favorit dengan 14 varian rasa yang tersebar luas di seluruh penjuru Indonesia, sebagaimana tercantum dalam situs resmi Wings.
Wings Group, imperium bisnis yang menaungi Mie Sedaap, didirikan oleh dua sosok visioner: Harjo Sutanto dan sahabat karibnya, Johannes Ferdinand Katuari. Setelah wafatnya Harjo Sutanto, kepemimpinan Wings Group beralih sepenuhnya ke tangan Johannes Ferdinand Katuari, yang kemudian melanjutkan estafet kepemimpinan bersama putranya, Eddy William Katuari. Dengan demikian, kendali utama atas Mie Sedaap dan seluruh entitas Wings Group saat ini berada di tangan keluarga Katuari, dengan Eddy William Katuari sebagai penerus yang memegang kemudi.


