Chapnews – Ekonomi – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tengah bergerak cepat untuk menarik investasi asing dalam skala besar ke pasar modal Indonesia. Pejabat Sementara Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, mengungkapkan bahwa pihaknya baru saja menuntaskan pertemuan krusial dengan Bank Dunia (World Bank) untuk membahas strategi kucuran dana segar dari para investor global.
Pertemuan yang berlangsung pada pekan lalu tersebut berfokus pada perumusan sebuah mekanisme inovatif: pembentukan "investor group". Hasan menjelaskan bahwa kelompok investor ini nantinya akan secara periodik menjalin komunikasi langsung dengan regulator, otoritas, serta para pelaku usaha di industri pasar modal Tanah Air. Inisiatif ini dirancang untuk mempermudah aliran modal asing ke perusahaan-perusahaan yang sahamnya tercatat di bursa. Pernyataan ini disampaikan Hasan dalam konferensi pers di Gedung BEI pada Senin (9/2/2026), menggarisbawahi komitmen OJK dalam memperkuat pasar modal domestik.

Langkah strategis ini juga selaras dengan upaya OJK untuk melakukan pendalaman pasar modal, salah satunya melalui penyesuaian aturan Bursa Efek Indonesia (BEI) terkait peningkatan batas minimum kepemilikan saham publik atau free float. Batas free float akan dinaikkan secara signifikan dari 7,5 persen menjadi 15 persen. Untuk memenuhi ketentuan baru ini, perusahaan tercatat diberikan opsi untuk menerbitkan saham baru atau melakukan right issue.
OJK, bekerja sama dengan Self-Regulatory Organizations (SRO), berkomitmen penuh untuk memfasilitasi komunikasi antara perusahaan-perusahaan tercatat dengan kelompok investor dari World Bank. Hasan menegaskan bahwa melalui kanal komunikasi khusus ini, segala kekhawatiran, informasi terbaru, serta rencana aksi korporasi yang akan dilakukan—termasuk upaya pemenuhan ketentuan free float 15 persen—dapat tersampaikan secara langsung dan efektif kepada para investor besar yang menjadi target. Harapannya, hal ini akan mempercepat proses penyerapan modal asing dan mendorong pertumbuhan pasar modal Indonesia ke level yang lebih tinggi.


