Chapnews – Ekonomi – Pemanfaatan ruas Tol Cibitung-Cilincing (JTCC) yang vital sebagai jalur penghubung langsung ke Pelabuhan Tanjung Priok dari kawasan industri Cikarang, Bekasi, hingga Karawang, masih jauh dari optimal. Kondisi ini memicu sorotan tajam, terutama setelah terungkap bahwa tingginya tarif, yang mencapai sekitar Rp70.000 untuk golongan kendaraan tertentu, menjadi salah satu biang keladi minimnya minat pengguna. Desakan pun menguat agar PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo), sebagai pemegang saham, segera mengambil langkah konkret untuk menggenjot utilisasi tol strategis ini.
Data menunjukkan, rata-rata harian kendaraan yang melintasi JTCC hanya berkisar 8.000 unit. Angka ini dinilai sangat rendah jika dibandingkan dengan kapasitas yang tersedia dan potensi besar tol tersebut dalam memperlancar distribusi logistik nasional. Padahal, keberadaan JTCC diharapkan mampu menjadi tulang punggung distribusi barang, mengurangi beban jalan arteri, serta memangkas waktu tempuh dan biaya operasional bagi pelaku usaha.

Menanggapi situasi ini, Direktur Pusat Studi Kebijakan Publik, Sofyano Zakaria, menegaskan urgensi bagi direksi Pelindo untuk bertindak cepat. Menurut Sofyano, tol yang seharusnya menjadi solusi utama kelancaran arus logistik dari sentra industri menuju pelabuhan justru terabaikan karena persoalan biaya.
"Salah satu ganjalan utama adalah tarif yang masih dianggap mahal, sekitar Rp70.000 per unit kendaraan untuk golongan tertentu. Ini menyebabkan banyak operator logistik enggan melintas dan memilih jalur alternatif lain yang mungkin lebih murah, meski berisiko lebih padat dan memakan waktu lebih lama," jelas Sofyano dalam keterangannya kepada chapnews.id.
Mengingat Pelindo memiliki kepemilikan saham pada ruas tol JTCC, Sofyano menekankan bahwa perusahaan pelat merah ini memiliki kepentingan langsung untuk mendorong optimalisasi pemanfaatannya. Ia mendesak manajemen Pelindo untuk mengupayakan pemberlakuan tarif terintegrasi dengan jaringan tol lainnya. Hal ini diharapkan dapat menekan biaya yang ditanggung pengusaha angkutan, menjadikan JTCC pilihan yang lebih kompetitif dan efisien.
"Perlu ada dialog serius dengan Pemerintah dan pihak terkait lainnya untuk mencari jalan keluar terkait masalah tarif ini. Keberhasilan mengatasi kendala tarif yang dinilai memberatkan ini tentu akan sangat diapresiasi oleh publik dan sektor logistik," tambah Sofyano.
Ia juga menyoroti dampak dari sepinya JTCC, yaitu semakin padatnya ruas Tol Cikampek dan Tol Cakung-Cilincing (Cacing) Cikarang. Kedua ruas ini tetap menjadi primadona bagi kendaraan logistik, menambah beban kemacetan dan inefisiensi di jalur-jalur tersebut. Optimalisasi Tol Cibitung-Cilincing bukan hanya tentang pendapatan tol semata, melainkan juga tentang efisiensi rantai pasok nasional. Dengan tarif yang lebih bersahabat dan terintegrasi, diharapkan tol ini dapat benar-benar berfungsi sebagai urat nadi logistik yang selama ini dicita-citakan.



