Chapnews – Ekonomi – Nilai tukar Rupiah kembali menghadapi tekanan signifikan di pasar keuangan global. Eskalasi ketegangan militer di Timur Tengah memicu sentimen penghindaran risiko (risk-off), mendorong investor beralih ke aset yang lebih aman (safe haven), dan membuat Bank Indonesia (BI) menyatakan kesiapannya untuk melakukan intervensi guna menjaga stabilitas. Pernyataan ini disampaikan pada Senin, 2 Maret 2026.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas (DPMA) BI, Erwin Gunawan Hutapea, menegaskan bahwa otoritas moneter akan terus memantau pergerakan pasar secara cermat. Tujuannya adalah memastikan bahwa pergerakan Rupiah tetap mencerminkan nilai fundamentalnya di tengah gejolak global yang kian memanas.

Untuk meredam volatilitas yang terjadi, BI memastikan kehadirannya di pasar melalui berbagai instrumen intervensi, baik di pasar domestik maupun luar negeri. "Bank Indonesia akan tetap hadir di pasar melalui intervensi baik transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri maupun transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik," jelas Erwin dalam keterangan resminya yang diterima chapnews.id.
Selain intervensi langsung, BI juga berkomitmen untuk mengoptimalkan seluruh instrumen kebijakan moneter. Langkah ini bertujuan untuk meningkatkan efektivitas transmisi suku bunga di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi. "BI juga akan terus mengoptimalkan kebijakan untuk meningkatkan efektivitas transmisi kebijakan suku bunga," tambah Erwin, menekankan pentingnya respons kebijakan yang komprehensif.
Dalam sepekan terakhir di akhir Februari 2026, Rupiah memang menunjukkan pergerakan yang fluktuatif dan cenderung melemah. Mata uang Garuda ditutup di kisaran Rp16.787 hingga Rp16.888 per dolar AS.
Tekanan terhadap Rupiah tidak hanya berasal dari geopolitik Timur Tengah. Sentimen lain yang turut membebani adalah ketegangan geopolitik antara AS dan Iran, data ekonomi AS yang kuat (yang mengindikasikan kebijakan moneter hawkish), serta ancaman tarif perdagangan global yang berpotensi menghambat arus investasi. Proyeksi untuk pekan mendatang menunjukkan bahwa Rupiah masih akan bergerak volatil, diperkirakan di kisaran Rp16.700-Rp16.900, menuntut kewaspadaan berkelanjutan dari otoritas moneter.


