Chapnews – Nasional – Bencana banjir tak terhindarkan melanda Desa Patrasana, Kecamatan Kresek, Kabupaten Tangerang, selama tiga hari berturut-turut, sejak Senin (8/3) hingga Rabu (11/3). Genangan air yang mencapai ketinggian bervariasi antara 30 sentimeter hingga satu meter ini telah menenggelamkan ratusan hunian warga, menciptakan pemandangan memilukan di wilayah tersebut.
Pantauan tim chapnews.id di lokasi menunjukkan, akses jalan utama yang menghubungkan Desa Patrasana dengan Desa Pasir Ampo masih terputus akibat genangan air yang pekat. Banyak pengendara sepeda motor terpaksa berjuang mendorong kendaraan mereka menembus arus, menggambarkan betapa sulitnya mobilitas di tengah kepungan air. Tidak hanya jalan, permukiman warga juga masih terendam, memaksa ribuan jiwa bertahan dalam kondisi yang serba terbatas.

Kepala Desa Patrasana, Muhammad Sobri, mengungkapkan dampak masif dari bencana ini. Banjir melanda sembilan Rukun Tetangga (RT) di desanya, meliputi RT 01, 06, 10, 11, 12, 13, 14, 15, dan 16, dengan total 890 rumah terendam. "Secara keseluruhan, ada 1.200 kepala keluarga atau sekitar 3.000 jiwa yang merasakan langsung dampak banjir ini," terang Sobri. Dari jumlah tersebut, sekitar 200 warga terpaksa mengungsi ke Kantor Desa Patrasana yang kini difungsikan sebagai posko darurat. Sementara sisanya memilih berlindung di rumah kerabat atau mencari lokasi yang lebih tinggi untuk sementara waktu.
Menurut kesaksian Kariban, salah seorang warga terdampak, banjir ini merupakan akibat dari luapan Sungai Cidurian. "Curah hujan yang sangat tinggi belakangan ini membuat Sungai Cidurian meluap drastis, dan airnya langsung merendam desa kami," jelas Kariban. Ia juga menambahkan, hingga saat ini, bantuan logistik yang sangat dibutuhkan warga seperti makanan, obat-obatan, dan selimut, belum juga tiba. "Warga sangat membutuhkan selimut, makanan, dan juga obat-obatan untuk bertahan di tengah kondisi sulit ini," pungkasnya, berharap uluran tangan segera datang.



