Chapnews – Ekonomi – Rencana kenaikan tarif ojek online (ojol) hingga 15 persen tengah menjadi perbincangan hangat. Namun, benarkah kenaikan ini akan menguntungkan para pengemudi? Ekonom Piter Abdullah justru mempertanyakan efektivitas kebijakan tersebut. Menurutnya, kenaikan tarif yang tak terencana dan tanpa kajian mendalam berpotensi merugikan semua pihak.
"Tujuan kenaikan tarif harus jelas," tegas Piter dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (1/7/2025). "Apakah benar-benar akan meningkatkan pendapatan pengemudi? Atau justru hanya akan membebani penumpang tanpa dampak signifikan pada penghasilan driver?" Ia menekankan pentingnya transparansi dan kajian yang komprehensif sebelum kebijakan kenaikan tarif diterapkan.

Piter mengingatkan, kenaikan tarif bukanlah solusi ajaib. Dampaknya perlu dikaji secara menyeluruh. Jika kenaikan tarif membuat penumpang beralih ke moda transportasi lain, maka omzet pengemudi dan perusahaan aplikasi justru bisa menurun. Sebaliknya, penurunan tarif yang terlalu drastis juga dapat merugikan pengemudi.
Oleh karena itu, Piter mendesak pemerintah untuk lebih bijak dalam menyusun kebijakan tarif ojol. Kebijakan tersebut harus berbasis data dan kebutuhan riil, bukan sekadar merespon tuntutan salah satu pihak tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjangnya bagi seluruh ekosistem ojol. Kajian yang objektif dan komprehensif menjadi kunci keberhasilan kebijakan ini. Jangan sampai, niat baik justru berbuah petaka.



