Banjir Surut, Ancaman Baru Meneror Aceh Tamiang: Debu!
Chapnews – Nasional – Pasca-banjir yang melanda Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, warga kini dihadapkan pada ancaman kesehatan serius: debu pekat yang berasal dari endapan lumpur kering di sepanjang jalan protokol. Kondisi ini bukan hanya mengganggu aktivitas sehari-hari, tetapi juga memicu kekhawatiran akan peningkatan penyakit pernapasan yang membahayakan ribuan penyintas.

Berdasarkan pantauan chapnews.id, hamparan debu tebal menyelimuti ruas jalan utama, membentang dari Simpang Opak, Kecamatan Karang Baru, hingga ke Kecamatan Kuala Simpang. Kawasan yang dilewati mencakup area permukiman, hunian sementara (huntara) bagi korban banjir, hingga pusat perkantoran. Terutama pada sore hari, kondisi ini kian memburuk; jarak pandang dapat berkurang drastis hingga hanya sekitar 50 meter. Lalu-lalang kendaraan semakin memperparah situasi, mengangkat partikel-partikel lumpur kering ke udara, menciptakan kabut debu yang tidak hanya mengganggu visibilitas tetapi juga membahayakan saluran pernapasan pengguna jalan.
Kondisi ini telah menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat Aceh Tamiang. Banyak warga terpaksa mengenakan masker berlapis saat beraktivitas di luar rumah demi meminimalisir risiko terpapar debu, terutama untuk mencegah Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Data terkini dari Dinas Kesehatan Aceh per 3 Januari mencatat lonjakan kasus ISPA yang signifikan, mencapai 17.260 kasus di kalangan penyintas bencana di seluruh Aceh. Selain itu, penyakit kulit juga menunjukkan angka yang mengkhawatirkan dengan 13.627 kasus.
Upaya mitigasi seperti penyiraman jalan oleh aparat Polri dan TNI di pagi hari hanya memberikan efek sesaat, karena menjelang siang debu kembali pekat. Ilham, seorang warga Karang Baru, mengungkapkan kekecewaannya terhadap penanganan pasca-banjir. "Sejak 21 Desember, lumpur di sini sudah kering dan berubah menjadi debu. Disiram pun tidak efektif, memang seharusnya dipindahkan," tegas Ilham kepada chapnews.id pada Minggu (4/1).
Ia menyoroti bahwa masalah utama adalah lumpur sisa banjir yang dibiarkan menumpuk di pinggir jalan tanpa dipindahkan. Meskipun beberapa alat berat terlihat beroperasi membersihkan lumpur di titik-titik tertentu, terutama dekat Huntara Simpang Opak, keberadaannya masih sangat minim di kawasan Kuala Simpang, memperlambat proses pemulihan dan memperpanjang penderitaan warga akibat ancaman debu ini. Solusi permanen berupa pemindahan total sisa lumpur menjadi desakan utama demi kesehatan dan kenyamanan warga Aceh Tamiang.



