Chapnews – Nasional – Peringatan 30 tahun peristiwa kelam Kerusuhan Dua Puluh Tujuh Juli (Kudatuli) kembali digelar pada Sabtu, 27 Juli 2026. Acara yang berlangsung di sebuah lapangan terbuka di jantung ibu kota ini dikemas secara unik melalui perpaduan teatrikal dan ritual adat yang sarat makna, berhasil menyedot perhatian publik dan menyentuh emosi para hadirin.
Suasana haru dan khidmat menyelimuti area peringatan sejak sore hari. Ratusan orang, termasuk keluarga korban, aktivis hak asasi manusia, seniman, dan masyarakat umum, berkumpul untuk mengenang tragedi yang terjadi tiga dekade lalu. Fokus utama acara adalah pertunjukan teatrikal yang secara gamblang merekonstruksi detik-detik mencekam penyerbuan kantor PDI pada 27 Juli 1996.

Para seniman dan aktivis, beberapa di antaranya adalah saksi hidup dan keluarga korban, dengan penuh penghayatan memerankan kembali adegan-adegan kekerasan, penyerbuan, dan perjuangan para aktivis pro-demokrasi. Sorotan lampu yang dramatis, iringan musik yang melankolis, serta efek suara yang realistis berhasil membawa penonton kembali ke masa kelam tersebut. Banyak penonton tak kuasa menahan air mata saat adegan-adegan pilu ditampilkan, merefleksikan duka mendalam yang masih terasa hingga kini.
Tak hanya teatrikal, rangkaian acara juga diperkaya dengan ritual adat yang kental, dipimpin oleh sesepuh dan tokoh adat setempat. Ritual ini bertujuan untuk mendoakan para korban, membersihkan energi negatif yang mungkin masih melekat, dan memohon kedamaian bagi arwah yang berpulang. Prosesi tabur bunga diiringi pembacaan doa-doa lintas agama menambah kekhusyukan acara, menegaskan pentingnya persatuan dan rekonsiliasi dalam menghadapi sejarah kelam.
Menurut salah satu koordinator acara, Ibu Siti Aminah, peringatan ini bukan sekadar mengenang, tetapi juga menegaskan kembali tuntutan akan keadilan bagi para korban Kudatuli. "Sudah 30 tahun, namun keadilan masih menjadi barang mahal. Melalui seni dan budaya, kami ingin suara para korban terus bergema, agar sejarah kelam ini tidak terulang dan para pelaku bertanggung jawab," ujarnya. Ia menambahkan bahwa perpaduan seni dan tradisi dipilih untuk menjangkau audiens yang lebih luas dan memastikan pesan moral dari Kudatuli dapat diterima oleh generasi muda.
Perpaduan seni teatrikal dan ritual adat dalam peringatan 30 tahun Kudatuli ini menjadi bukti bahwa ingatan kolektif masyarakat terhadap peristiwa tragis tersebut tidak akan pudar. Ini adalah pengingat bahwa perjuangan untuk keadilan dan penghormatan hak asasi manusia adalah perjalanan panjang yang harus terus diperjuangkan, diwariskan dari generasi ke generasi, agar tragedi serupa tak lagi menodai lembaran sejarah bangsa.


