Chapnews – Ekonomi – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat penurunan tajam hingga 4,57 persen pada perdagangan hari ini, mengakhiri sesi di level 7.577. Pelemahan signifikan ini tak lepas dari kombinasi tekanan eksternal dan internal yang membebani pasar modal Indonesia secara bersamaan.
Tensi geopolitik yang memanas antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran menjadi pemicu utama tekanan global. Konflik ini sontak mendorong lonjakan harga minyak mentah dunia, yang pada gilirannya memicu kekhawatiran akan inflasi global yang berpotensi menghambat pertumbuhan ekonomi.

Di saat bersamaan, sentimen negatif dari dalam negeri turut memperkeruh suasana. Lembaga pemeringkat global Fitch Ratings baru-baru ini merevisi prospek (outlook) Indonesia dari stabil menjadi negatif, meskipun peringkat kredit tetap bertahan di level investment grade BBB. Keputusan ini sontak menambah beban di pasar saham domestik.
Menurut pengamat pasar modal, Hendra Wardana, kenaikan harga minyak memiliki efek domino yang signifikan. Bukan hanya memicu inflasi, tetapi juga berpotensi memperbesar beban subsidi negara dan menekan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Situasi ini kian pelik mengingat posisi Indonesia sebagai negara importir minyak.
Hendra menjelaskan, "Ketika pasar mendeteksi peningkatan risiko fiskal, sentimen investor cenderung bergeser cepat ke arah defensif." Ia menambahkan bahwa pergerakan IHSG hingga akhir Maret akan sangat bergantung pada dua faktor krusial: harga minyak mentah dan stabilitas nilai tukar rupiah. Selama harga minyak Brent tetap di bawah USD 90 per barel, tekanan yang ada diperkirakan masih dalam koridor volatilitas jangka pendek.
Namun, Hendra memperingatkan skenario yang lebih buruk. Jika harga minyak mendekati USD 100 per barel dan terjadi gangguan distribusi fisik di Selat Hormuz, pasar berpotensi memasuki fase ‘risk-off’ yang jauh lebih dalam. Secara teknikal, level 7.500-7.600 menjadi zona penopang psikologis yang sangat krusial bagi IHSG.
Ia memproyeksikan, apabila ketegangan geopolitik mereda dan rupiah menunjukkan stabilitas, IHSG memiliki peluang untuk rebound secara bertahap, menargetkan kisaran 7.900-8.100 pada akhir Maret. Sebaliknya, jika eskalasi konflik meluas dan tekanan fiskal terus meningkat, indeks masih berisiko untuk kembali menguji area support di 7.400.



