Chapnews – Nasional – Guncangan gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,8 melanda wilayah Bolaang Mongondow Selatan, Sulawesi Utara, pada Sabtu pagi (18/4). Insiden ini sempat memicu kekhawatiran, namun Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) segera memastikan bahwa gempa tersebut tidak memiliki potensi untuk memicu tsunami.
Menurut data terbaru dari BMKG, parameter gempa telah diperbarui menjadi magnitudo 5,5. Episenter gempa teridentifikasi berada di koordinat 0,05° Lintang Selatan dan 123,92° Bujur Timur. Lokasi tepatnya berada di laut, sekitar 47 kilometer arah Barat Daya Bolaang Uki, Sulawesi Utara, dengan kedalaman hiposenter mencapai 107 kilometer.

Plt. Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Rahmat Triyono, menjelaskan bahwa karakteristik gempa ini tergolong sebagai gempa menengah. "Gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa menengah akibat deformasi batuan dalam zona subduksi Lempeng Laut Maluku," terang Rahmat dalam pernyataan tertulisnya pada Sabtu (18/4). Ia menambahkan, analisis mekanisme sumber menunjukkan adanya pergerakan naik atau thrust fault.
Getaran gempa dirasakan di sejumlah daerah dengan intensitas bervariasi. Wilayah Kota dan Kabupaten Gorontalo, Kabupaten Bone Bolango, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur, Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan, serta Kabupaten Gorontalo Utara merasakan guncangan dengan skala intensitas III MMI. Pada skala ini, getaran terasa nyata di dalam rumah, menyerupai sensasi saat truk besar melintas. Sementara itu, di Minahasa Tenggara, intensitas gempa tercatat II MMI, di mana getaran dirasakan oleh beberapa orang dan benda-benda ringan yang tergantung mulai bergoyang.
Rahmat Triyono kembali menegaskan hasil pemodelan yang telah dilakukan. "Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempabumi ini tidak berpotensi tsunami," ujarnya. Hingga pukul 06.35 WIB, sistem monitoring BMKG belum mencatat adanya aktivitas gempa susulan (aftershock) yang terjadi setelah guncangan utama. Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan tidak panik, serta selalu merujuk informasi resmi dari BMKG.



