Chapnews – Ekonomi – Gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal semakin nyata menghantui ribuan pekerja di Indonesia. Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) memperingatkan bahwa sekitar 9.000 pekerja dari setidaknya 10 perusahaan berisiko kehilangan pekerjaan dalam tiga bulan ke depan, menandai periode sulit bagi sektor ketenagakerjaan nasional.
Wakil Presiden KSPI, Kahar S Cahyono, menegaskan bahwa ancaman ini bukan lagi sekadar prediksi, melainkan realitas yang sudah terjadi. Ratusan karyawan telah terdampak, dengan kasus terbaru menimpa 350 pekerja PT Xacti Indonesia di Depok, Jawa Barat, yang terpaksa dirumahkan akibat penutupan operasional perusahaan. "Saat itu kami memperkirakan dalam tiga bulan ke depan akan terjadi PHK terhadap sekitar 9.000 pekerja di sedikitnya 10 perusahaan. Hari ini, ancaman itu bukan lagi prediksi. Gelombang PHK sudah nyata terjadi," ujarnya, seperti dikutip dari chapnews.id.

Data KSPI menunjukkan bahwa sejumlah perusahaan telah melakukan PHK pada bulan Mei ini. Di Kabupaten Serang, Banten, misalnya, PT Nikomas Gemilang merumahkan 279 pekerjanya, disusul PT Parkland World Indonesia 2 dengan 223 pekerja, dan PT Sinhwa Bis yang mem-PHK 176 karyawan. Tak hanya di Banten, Jawa Timur juga merasakan dampaknya, di mana showroom dan bengkel Toyota Asri Motor (PT dan CV) dilaporkan telah melakukan PHK terhadap sekitar 200 pekerjanya.
Presiden KSPI yang juga Presiden Partai Buruh, Said Iqbal, menyoroti bahwa fenomena PHK massal ini merupakan indikator nyata kerapuhan industri domestik dalam menghadapi turbulensi ekonomi global. Ia menjelaskan, sektor manufaktur saat ini berada dalam tekanan hebat akibat ketidakpastian pasar global yang tak kunjung mereda, memaksa banyak perusahaan mengambil langkah ekstrem berupa efisiensi, bahkan hingga penutupan total atau pailit.
Meskipun demikian, Iqbal memastikan bahwa proses advokasi untuk karyawan PT Xacti telah membuahkan hasil. Berdasarkan laporan anggota di lapangan, para pekerja yang terdampak mendapatkan kompensasi berupa pesangon sebesar dua kali ketentuan undang-undang ketenagakerjaan, ditambah uang penghargaan masa kerja dan uang penggantian hak.
Potret buram ketenagakerjaan ini tidak hanya terpusat di Depok. Di Karawang, Jawa Barat, tercatat total 1.323 orang terkena PHK dengan beragam latar belakang, mulai dari penutupan perusahaan (295 orang), langkah efisiensi (294 orang), hingga alasan disharmoni manajemen. Kelesuan ekonomi ini juga merambah ke wilayah Banten, khususnya Serang dan Tangerang, di mana sektor sepatu dan tekstil menjadi yang paling terdampak. Perusahaan-perusahaan seperti PT Sinhwa Bis, PT Lung Cheong, dan PT PWI telah merumahkan ratusan karyawannya. Bahkan, PT Nikomas Gemilang, salah satu raksasa produsen sepatu, telah memulai langkah efisiensi dengan mem-PHK 279 karyawannya pada bulan Mei ini.
Penurunan daya beli masyarakat menjadi pukulan telak bagi sektor otomotif yang sangat bergantung pada bahan baku impor. Hal ini tercermin dari lesunya permintaan kendaraan di pasar domestik, yang memicu penutupan unit usaha di berbagai daerah. "Di Sidoarjo, CV Asri yang bergerak di bidang showroom mobil dan perbengkelan sudah mem-PHK 200 orang karena tidak kuat bertahan akibat permintaan mobil yang rendah, yang dipicu kenaikan harga jual imbas melemahnya Rupiah terhadap dolar," pungkas Iqbal, menyoroti dampak langsung dari fluktuasi mata uang terhadap stabilitas industri.

