Ads - After Header

Bukan Mistis! UGM Ungkap Jalur Gas Pemicu Api Rumah Fia

Ahmad Dewatara

Misteri kebakaran berulang di rumah Mutfiana alias Fia di Seyegan, Sleman, DIY, perlahan mulai terkuak. Chapnews – Nasional – Tim peneliti dari Universitas Gadjah Mada (UGM) baru-baru ini berhasil mendeteksi sejumlah retakan di bawah permukaan lantai rumah Fia, yang disinyalir kuat menjadi jalur bagi senyawa gas pemicu fenomena api spontan tersebut.

Penemuan retakan ini dilakukan oleh tim dari Lab Geofisika Eksplorasi Departemen Teknik Geologi UGM, menggunakan perangkat georadar canggih. Saptono Budi Samodra, salah satu peneliti dari tim tersebut, menjelaskan bahwa deteksi dilakukan pada titik-titik yang sebelumnya dilaporkan menjadi lokasi kemunculan api. "Jadi yang kalau di atas ini urugan itu terlihat tadi di alat, kemudian di bawah itu masih ada tanah aslinya kan. Tanah asli itu kelihatan ada yang menunjukkan ada pola atau struktur retakan di beberapa tempat," ungkap Saptono saat ditemui di lokasi kejadian pada Senin lalu.

Bukan Mistis! UGM Ungkap Jalur Gas Pemicu Api Rumah Fia
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Georadar, atau geoscaner, beroperasi dengan memancarkan pulsa gelombang elektromagnetik 60 MHz. Gelombang ini menembus tanah dan memantul kembali ke permukaan saat bertemu material dengan kepadatan berbeda, memungkinkan pemetaan struktur di bawah tanah. Hasil pembacaan pada layar perangkat menunjukkan retakan berupa garis tipis hingga dimensi yang lebih besar, memutus beberapa lapisan tanah. Beberapa retakan terlihat tegak lurus, sementara sebagian lainnya miring, namun kemungkinan besar tetap sinkron dengan titik-titik kemunculan api.

Variasi kedalaman retakan ini tercatat, meskipun Saptono menggarisbawahi batasan deteksi georadar yang hanya mampu menembus hingga kedalaman maksimal 20 meter. "Mungkin di bawah masih berlanjut, cuma keterbatasan kemampuan alat yang tidak bisa mendeteksi sampai lebih dalam," terangnya. Tim UGM menegaskan bahwa pembacaan ini masih bersifat sementara dan memerlukan tahap olah data lebih lanjut untuk memastikan keterkaitan retakan dengan senyawa pemicu api. Selain itu, mereka berencana menggunakan geolistrik untuk pengukuran lapisan yang lebih dalam dan melakukan pengeboran tangan guna mengidentifikasi jenis lapisan tanah di bawah rumah Fia.

Saptono menekankan bahwa penelitiannya berfokus pada aspek geologi, mencari kemungkinan lain dari kesimpulan sementara Pusat Kajian Pelambatan Entropi (PKPE) Fakultas Teknik UGM. Sebelumnya, PKPE UGM telah mengemukakan asumsi bahwa api dipicu oleh gas hidrogen (H2) dan fosfin (PH3). Gas hidrogen ini diduga berasal dari fermentasi limbah organik, seperti kotoran, sisa air, darah, dan bulu ayam, yang merupakan indikasi kuat keberadaan senyawa lain yang mudah terbakar pada suhu kamar, yaitu gas fosfin. Hal ini sejalan dengan usaha pemotongan ayam yang dijalankan keluarga Fia. "(Meneliti) aspek geologi kira-kira ada enggak ya yang penyebab lain yang bukan dari terkait dengan pemotongan ayam," ucap Saptono.

Di sisi lain, Fia melaporkan bahwa total kemunculan api telah mencapai 113 kali hingga hari ke-17 sejak kejadian pertama. Namun, intensitas kejadian kebakaran spontan per harinya cenderung menurun. Fia mengutip penjelasan pakar kepadanya, bahwa kemungkinan ini disebabkan oleh banyaknya pengunjung di rumahnya. "Menurun karena banyak pengunjung, banyak tamu karena kan seperti yang sudah dikatakan bahwa gas oksigen itu rebutan dengan manusia. Kalau manusianya banyak yang datang, berarti intensitasnya turun. Nah, itu kayake masuk gitu," jelas Fia.

Sementara itu, tim peneliti dari UPN Veteran Yogyakarta, yang dipimpin oleh Guru Besar dan Dekan Fakultas Teknologi Mineral dan Energi (FTME) Basuki Rahmat, juga turut melakukan investigasi. Mereka menelusuri kemungkinan sumber gas dari aspek geologi dan menemukan adanya batuan induk di area sungai sekitar 300 meter dari rumah Fia. Tim ini mencurigai gas alami, termasuk metana (CH4) dan hidrogen, bisa saja berasal dari endapan batuan lanau berwarna gelap yang kaya material organik. Survei geomagnetik juga telah dilakukan untuk mencari jenis batuan ultrabasa dan vulkanik yang berpotensi membentuk gas hidrogen, serta survei geolistrik untuk memetakan lapisan batuan dan mendeteksi struktur atau rongga yang menjadi jalur keluarnya gas pemicu api. Berbagai upaya ilmiah ini terus dilakukan untuk mengungkap tuntas misteri api berulang yang meresahkan warga Sleman.

Also Read

Bagikan:

Ahmad Dewatara

kontributor di ChapNews yang berfokus pada liputan dan analisis Olahraga. Ia secara rutin menyajikan berita terkini, ulasan pertandingan, dan spekulasi transfer di dunia sepak bola global maupun nasional, memberikan pandangan yang tajam bagi para penggemar olahraga.

Tags

Tinggalkan komentar

Ads - Before Footer