Chapnews – Ekonomi – Membawa kabar gembira bagi perekonomian nasional, nilai tukar rupiah berhasil menunjukkan performa impresif di penghujung perdagangan hari ini. Mata uang Garuda ditutup menguat signifikan, melesat 128 poin atau sekitar 0,71 persen, mencapai level Rp17.860 per dolar Amerika Serikat. Penguatan ini menjadi sorotan utama pasar keuangan pada Jumat, 12 Juni 2026.
Menurut Analis Pasar Uang Ibrahim Assuaibi, penguatan rupiah ini didorong oleh beberapa sentimen positif dari kancah global. Salah satu faktor dominan adalah keputusan mengejutkan Presiden AS Donald Trump yang membatalkan rencana serangan militer terhadap Iran pada Kamis lalu. Trump mengindikasikan adanya kemajuan signifikan dalam diskusi dengan Teheran, bahkan menyebutkan kemungkinan penandatanganan kesepakatan damai untuk membuka kembali Selat Hormuz bagi pelayaran global paling cepat akhir pekan ini. Meskipun Iran belum memberikan keputusan final, sinyal positif ini meredakan ketegangan geopolitik yang sebelumnya memanas.

Sebelumnya, Iran sempat mengumumkan "penutupan" Selat Hormuz, jalur vital yang dilewati seperlima pengiriman minyak dan gas alam cair dunia. Ancaman Teheran untuk menembak kapal apa pun yang mencoba melintas telah menyebabkan harga energi global melonjak tajam selama berbulan-bulan. "Blokade Teheran selama berbulan-bulan telah membuat harga energi tetap tinggi," ungkap Ibrahim dalam risetnya yang dikutip oleh chapnews.id pada Jumat (12/6/2026).
Situasi di Selat Hormuz sendiri masih dinamis. Media pemerintah Iran pada Jumat melaporkan bahwa pasukan mereka telah mencegah sebuah kapal tanker melintas tanpa koordinasi, sementara militer AS melalui media sosial menyatakan bahwa kapal-kapal komersial tetap beroperasi normal di jalur perairan tersebut. Selain itu, kekhawatiran inflasi di Amerika Serikat juga turut memengaruhi pergerakan dolar AS. Data ekonomi terbaru pada Kamis menunjukkan harga produsen naik lebih besar dari perkiraan pada Mei 2026, mencatat kenaikan tahunan terbesar dalam tiga setengah tahun terakhir, terutama akibat meningkatnya biaya energi yang berdampak pada perekonomian Paman Sam. Kombinasi faktor-faktor ini menciptakan tekanan pada dolar AS dan memberikan ruang bagi rupiah untuk menunjukkan kekuatannya.


