Chapnews – Ekonomi – Nilai tukar rupiah menunjukkan performa impresif pada penutupan perdagangan hari ini, melonjak tajam terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Mata uang Garuda berhasil menguat 151 poin atau sekitar 0,85 persen, menembus level Rp17.708 per dolar AS. Penguatan signifikan ini tak lepas dari meredanya ketegangan geopolitik antara AS dan Iran yang telah lama membayangi pasar global.
Analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi, menyoroti sentimen positif yang datang dari kabar kesepakatan awal antara Presiden AS Donald Trump dan Wakil Menteri Luar Negeri Iran. Kesepakatan ini bertujuan untuk mengakhiri konflik dan memulihkan lalu lintas pelayaran vital melalui Selat Hormuz.

"AS dan Iran akan menandatangani nota kesepahaman di Swiss pada hari Jumat, seperti yang disampaikan perdana menteri Pakistan yang bertindak sebagai mediator," jelas Ibrahim. Ia menambahkan, Trump sendiri telah menyatakan bahwa Selat Hormuz akan dibuka ‘bebas biaya’ dan blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan Iran juga akan diakhiri.
Kantor berita semi-resmi Iran, Mehr, bahkan menyebutkan draf kesepakatan tersebut menyerukan pembukaan kembali Selat Hormuz dalam waktu 30 hari di bawah pengaturan Iran. Selama lebih dari tiga bulan, dunia telah kehilangan jutaan barel pasokan minyak dan gas akibat penutupan Selat Hormuz, jalur krusial yang mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia.
Investor kini juga mencermati kecepatan produsen di Timur Tengah dalam melanjutkan produksi dan ekspor minyak pasca-kerusakan akibat konflik. Selain itu, pertanyaan besar adalah apakah lebih banyak kapal akan kembali berani memasuki wilayah tersebut. Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, mengindikasikan bahwa kesepakatan yang lebih luas akan dinegosiasikan selama periode gencatan senjata 60 hari. Prospek perdamaian ini menjadi angin segar bagi stabilitas pasar energi global dan, secara tidak langsung, turut memperkuat posisi rupiah.


