Chapnews – Nasional – Wakil Ketua DPRD Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, dari Fraksi Partai Gerindra, Nana Kencanawati, menjadi sorotan tajam publik setelah melontarkan komentar yang dianggap merendahkan di salah satu unggahan media sosial. Setelah dihujani kritik dan kecaman, Nana akhirnya menyampaikan permohonan maaf secara terbuka melalui akun pribadinya.
Dalam pernyataannya, Nana mengakui bahwa komentarnya "tidak tepat" dan telah "menimbulkan ketersinggungan di masyarakat." "Saya menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada ibu yang bersangkutan, keluarga, serta seluruh masyarakat atas komentar yang saya tuliskan di media sosial," tulis Nana pada Selasa (16/6), seperti dikutip dari chapnews.id.

Ia menambahkan bahwa ucapan tersebut "tidak mencerminkan sikap yang seharusnya saya tunjukkan dan telah menimbulkan ketidaknyamanan serta ketersinggungan bagi banyak pihak." Nana juga menegaskan tidak memiliki niat merendahkan, namun menyadari bahwa komentarnya tetap tidak pantas dan menjadi "pelajaran berharga" untuk lebih bijak dalam berkomunikasi di ruang publik.
Polemik ini bermula dari beredarnya video aksi unjuk rasa Aliansi Mahasiswa Cirebon di depan Gedung DPRD Kota Cirebon pada Senin (15/6). Dalam rekaman tersebut, seorang ibu dengan lantang menyuarakan penolakan terhadap program MBG. Video ini kemudian viral, memicu beragam tanggapan, termasuk dari akun media sosial Nana.
Tangkapan layar yang tersebar luas menunjukkan akun @nanakencanawati mengomentari unggahan bertuliskan ‘Mak Denok Demo Bareng Mahasiswa di Cirebon: Prabowo Kami Tidak Butuh MBG’. Komentar Nana berbunyi, "Lagian siapa yang mau ngasih lo makan ???? Udah GEMBROT !!!!" Sontak, komentar ini menuai protes keras dari warganet yang menilai pernyataan tersebut sebagai bentuk body shaming dan tidak pantas diucapkan oleh seorang pejabat publik, apalagi mengingat Nana adalah kader Partai Gerindra, partai yang dipimpin Prabowo Subianto. Bahkan, tokoh publik Melanie Subono turut menyuarakan kritiknya.
Menanggapi gelombang kritik, Nana Kencanawati memberikan klarifikasi. Ia mengklaim bahwa saat komentar kontroversial itu ditulis, akun Instagram pribadinya sedang dioperasikan oleh anggota tim yang membantunya mengelola media sosial. "Ketua dan Wakil Ketua DPRD memiliki tim media masing-masing. Kebetulan saat membuka Instagram, tim media ibu menggunakan akun ibu dan saat itu komentar tersebut ditulis secara spontan," jelas Nana, seperti dikutip dari chapnews.id.
Ia juga mengaku baru mengetahui polemik ini setelah menerima banyak telepon pada malam hari, beralasan "gaptek" (gagap teknologi) sehingga tidak langsung menyadari reaksi publik. "Ibu tahunya setelah malam banyak yang telepon. Karena ibu gaptek, sementara tim media tinggal di Kota Cirebon, jadi baru bisa melihat postingan dan komentar-komentarnya pada malam hari," urainya. Setelah mengetahui kontroversi tersebut, Nana mengaku langsung menyampaikan permohonan maaf.
Pascapolemik ini, akun media sosial pribadi Nana Kencanawati, @nanakencanawati, terpantau telah diubah menjadi mode privat pada Rabu (17/6) pukul 09.32 WIB, membatasi akses publik untuk melihat isinya.
Sementara itu, Ketua Fraksi Gerindra DPRD Kabupaten Cirebon, Subhan, memilih untuk tidak memberikan tanggapan terkait polemik yang menyeret kadernya tersebut. Saat dimintai komentar oleh awak media, Subhan hanya menjawab singkat, "No comment." Kejadian ini menjadi pengingat penting bagi pejabat publik untuk senantiasa berhati-hati dan bijak dalam setiap interaksi di ruang publik, termasuk media sosial.


