Chapnews – Nasional – Lampung Timur diliputi kekecewaan mendalam. Ribuan warga di Desa Pugung Raharjo, Kecamatan Sekampung Udik, Lampung Timur, harus menelan pil pahit setelah Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, membatalkan kehadirannya di Festival Budaya yang telah dipersiapkan matang selama berminggu-minggu. Pembatalan mendadak pada Minggu (28/6) ini memicu kemarahan publik, bahkan membuat paket sembako yang disiapkan ditolak mentah-mentah.
Antusiasme Memuncak, Harapan Pupus

Sejak pukul 08.00 WIB, Taman Wisata Randu Mas telah dipadati ribuan warga dari berbagai penjuru. Mereka datang berbondong-bondong bersama keluarga, tetangga, dan kerabat, dengan satu tujuan: menyaksikan langsung sosok Joko Widodo. Antusiasme yang meluap-luap terasa di setiap sudut lokasi festival, dari pintu masuk hingga ruas jalan utama yang ramai oleh warga dan pedagang.
Panitia, tokoh adat, relawan, dan pengurus Bela Budaya Nusantara telah bekerja keras selama kurang lebih tiga minggu, bahkan ada yang menyebut sebulan penuh, untuk menyiapkan acara ini. Berbagai pentas kesenian daerah adat Lampung, Padang, dan Bali telah disiapkan secara matang. Tak hanya itu, 1.000 paket sembako juga disiapkan sebagai bingkisan bagi warga yang hadir. Sesuai agenda, Jokowi dijadwalkan hadir sekitar pukul 09.00 WIB sebagai bagian dari safari politik tiga harinya di Lampung.
Panggung Kekecewaan: Sembako Ditolak, ID Card Dibuang
Namun, harapan yang membumbung tinggi itu pupus di tengah jalan. Sekitar pukul 11.30 WIB, kabar pembatalan kehadiran Jokowi menyebar tanpa adanya kejelasan pasti. Suasana riuh rendah yang tadinya penuh semangat, seketika berubah menjadi panggung kekecewaan. Ratusan warga yang merasa diabaikan mulai membubarkan diri dari lokasi.
Puncak kekecewaan terjadi ketika seribu paket sembako yang telah disiapkan ditolak mentah-mentah oleh warga. "Warga menolak paket sembako ini, karena warga hanya ingin Pak Jokowi hadir dan melihat langsung," ujar Kausar gelar Pangeran Pagar Alam, salah satu tokoh adat Sekappung Limo Migo Lampung Timur, kepada chapnews.id. Beberapa panitia acara bahkan melampiaskan kekecewaan mereka dengan melempar atau membuang kartu identitas kepanitiaan.
Pada pukul 13.35 WIB, lokasi Festival Budaya di Randu Mas yang tadinya semarak oleh warga dari berbagai daerah, berubah menjadi sepi total, bak kampung tanpa penghuni.
Suara Hati Warga dan Tokoh Adat
Sri, seorang warga Desa Sidoharjo, mengungkapkan rasa kecewanya yang mendalam. Ia mengaku sudah menunggu bersama anak, kerabat, dan tetangganya sejak pukul 07.00 WIB. "Kecewa kami. Sudah datang jauh-jauh dan lama menunggu berjam-jam, Pak Jokowi tidak jadi datang. Padahal kami tidak butuh sembako atau lainnya, kami hanya ingin melihat langsung Pak Jokowi saja," ucapnya kepada chapnews.id.
Ida Rumiati, warga Desa Pugung Raharjo, juga merasakan hal serupa. Ia bahkan rela tidak memasak di rumah demi bisa melihat Jokowi. "Pastinya kami sangat kecewa. Sudah sejak pagi menunggu, bahkan berjam-jam ini menunggunya Pak Jokowi batal datang. Bukan saya saja yang kecewa, semua masyarakat juga pada kecewa," ungkapnya.
Kausar, tokoh adat Sekappung Limo Migo, menegaskan bahwa persiapan telah dilakukan dengan tulus dan ikhlas sesuai petunjuk teknis (juknis) dari tim Jokowi. "Kami dikecewakan, dan masyarakat juga sangat kecewa. Kami tidak ada yang menolak kehadiran Pak Jokowi, tapi kami merasa dibohongi karena pembatalan ini sepihak dan tidak ada kejelasan," tegas Kausar.
Permohonan Maaf dan Harapan di Masa Depan
Menanggapi situasi ini, Ketua Umum Bela Budaya Nusantara, Mulyono, menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat. "Meski kecewa, saya mengimbau seluruh elemen masyarakat, tokoh adat, dan panitia tetap bersabar dan tidak emosional. Saya paham, karena selama tiga minggu lebih kita menyiapkan segalanya agar terlaksananya acara Festival Budaya ini," kata Mulyono.
Ia menegaskan bahwa pembatalan kunjungan ini bukanlah keinginan panitia, dan bukan pula karena adanya penolakan dari masyarakat. Mulyono berharap masyarakat dapat memahami situasi yang terjadi dan tetap menjaga semangat kebersamaan. Ia juga mengapresiasi seluruh pihak yang telah meluangkan waktu dan tenaga.
Mulyono sempat meminta Heru, perwakilan dari pihak Joko Widodo (Solo), untuk memberikan penjelasan kepada masyarakat. Namun, Heru hanya bisa berkata singkat, "Kami datang ke sini hanya ingin menyaksikan langsung pagelaran Festival Budaya ini karena kedekatan kami dengan Pak Mulyono," tanpa memberikan alasan pasti di balik pembatalan tersebut.
Meskipun kunjungan tersebut gagal, masyarakat setempat tetap berharap situs bersejarah Taman Purbakala Pugung Raharjo serta pelestarian budaya di Kabupaten Lampung Timur terus mendapatkan perhatian dari berbagai pihak di masa mendatang.


