Chapnews – Ekonomi – PT Angkasa Pura Indonesia (Persero), yang dikenal sebagai InJourney Airports, berhasil mencatatkan kinerja finansial impresif pada semester pertama tahun 2026. Perusahaan pengelola bandara ini membukukan pendapatan usaha sebesar Rp10,23 triliun, menunjukkan peningkatan signifikan sebesar 3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pencapaian ini terbilang luar biasa mengingat tekanan berat yang melanda industri penerbangan global akibat gejolak geopolitik di Timur Tengah, yang mulai terasa dampaknya sejak akhir kuartal pertama 2026.
Direktur Utama InJourney Airports, Mohammad Rizal Pahlevi, mengungkapkan bahwa pertumbuhan pendapatan perusahaan terutama didorong oleh penguatan kinerja bisnis non-aeronautika. Strategi ini merupakan bagian integral dari transformasi yang gencar dilakukan di bawah payung Danantara. "Transformasi yang kami jalankan di bawah Danantara telah membuktikan kemampuannya dalam menjaga momentum pertumbuhan pendapatan InJourney Airports, bahkan di tengah berbagai tantangan global. Fokus kami pada penguatan bisnis non-aeronautika menjadi kunci utama keberhasilan ini," terang Rizal dalam keterangan resminya pada Rabu (23/7/2026).

Perseroan merinci bahwa pengembangan area komersial di sejumlah bandara utama menjadi motor penggerak utama peningkatan pendapatan. Beberapa inisiatif strategis meliputi penataan ulang kawasan ritel di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, pengadopsian konsep ‘shopping arcade’ di Terminal 1C, serta pengembangan area komersial dengan skema ‘single flow’ di Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali. Langkah-langkah ini secara efektif mendorong peningkatan aktivitas belanja dan konsumsi para penumpang.
Selain itu, kontribusi signifikan juga datang dari beroperasinya terminal baru Bandara Sultan Hasanuddin Makassar sejak November 2025. Terminal modern ini tidak hanya dilengkapi dengan area komersial yang lebih luas dan terkini, tetapi juga berhasil melipatgandakan kapasitas bandara. Dari sebelumnya sekitar 7 juta penumpang per tahun, kini Bandara Sultan Hasanuddin mampu menampung hingga 15,5 juta penumpang per tahun, secara langsung memperkuat potensi pendapatan non-aeronautika perusahaan.


