Ads - After Header

Rupiah Ambruk ke Rp18.022: Ini Penyebabnya!

Ahmad Dewatara

Chapnews – Ekonomi – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menutup perdagangan Jumat (31/7/2026) dengan kinerja yang kurang memuaskan. Mata uang domestik terperosok tajam, melemah 89 poin atau sekitar 0,59 persen, hingga menembus level Rp18.022 per dolar AS. Pelemahan ini dipicu oleh kombinasi sentimen geopolitik global dan keputusan moneter dari bank sentral AS.

Menurut analis pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, salah satu pemicu utama tekanan terhadap rupiah berasal dari dinamika harga minyak mentah. Ketegangan di Timur Tengah, yang biasanya mendorong kenaikan harga minyak, kali ini diimbangi oleh tanda-tanda peningkatan arus lalu lintas di Selat Hormuz, sehingga menekan harga komoditas energi tersebut.

Rupiah Ambruk ke Rp18.022: Ini Penyebabnya!
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Ibrahim menjelaskan, Selat Hormuz memegang peranan krusial sebagai jalur pengiriman sekitar seperlima minyak mentah dan gas alam cair global. Wilayah strategis ini telah menjadi fokus utama pasar minyak sejak sebagian besar areanya terblokade menyusul pecahnya konflik AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari.

Situasi geopolitik di kawasan tersebut semakin kompleks dengan inisiatif Arab Saudi yang berupaya memimpin koalisi pertahanan maritim multinasional. Koalisi yang didukung 14 negara, termasuk Djibouti, Mesir, Pakistan, Sudan, dan Turki, bertujuan memperkuat kerja sama pertahanan di jalur-jalur pasokan energi vital seperti Selat Bab El-Mandeb, Laut Merah, dan Teluk Aden.

Ancaman lain datang dari kelompok militan Houthi di Yaman, yang berafiliasi dengan Iran. Pekan lalu, mereka mengumumkan blokade laut terhadap Arab Saudi, berpotensi mengganggu jalur ekspor minyak Riyadh melalui Laut Merah—sebuah rute alternatif penting selain Selat Hormuz.

Sementara itu, dari ranah kebijakan moneter global, Federal Reserve (The Fed) AS memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuannya tidak berubah, sesuai ekspektasi pasar. Namun, Ketua The Fed Kevin Warsh tidak memberikan sinyal yang gamblang mengenai arah kebijakan bank sentral terkait inflasi dan suku bunga di masa mendatang.

Menariknya, keputusan The Fed tersebut tidak diambil secara bulat. Setidaknya tiga anggota dewan kebijakan menyuarakan desakan untuk kenaikan suku bunga lebih lanjut, mengingat inflasi yang masih "lengket" dan sulit turun. Meskipun demikian, Warsh menegaskan kembali komitmen The Fed terhadap target inflasi tahunan sebesar 2 persen.

Also Read

Bagikan:

Ahmad Dewatara

kontributor di ChapNews yang berfokus pada liputan dan analisis Olahraga. Ia secara rutin menyajikan berita terkini, ulasan pertandingan, dan spekulasi transfer di dunia sepak bola global maupun nasional, memberikan pandangan yang tajam bagi para penggemar olahraga.

Tags

Tinggalkan komentar

Ads - Before Footer