Chapnews – Nasional – Situasi di Surabaya memanas pada Jumat (31/7) ketika ribuan anggota Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) terlibat bentrokan sengit dengan aparat gabungan TNI dan Polri. Insiden ini terjadi saat massa pesilat berupaya merangsek menuju kantor debt collector (DC) di Jalan Teuku Umar, yang menjadi sasaran kemarahan mereka pasca-pembacokan salah satu anggota PSHT oleh oknum penagih utang.
Ketegangan bermula setelah ribuan pesilat menggelar aksi unjuk rasa di Mapolrestabes Surabaya. Dengan tekad bulat, mereka kemudian bergerak menuju kantor debt collector yang berjarak sekitar 200-300 meter dari titik blokade. Namun, di persimpangan Jalan RA Kartini, laju massa dihentikan oleh barikade aparat keamanan.

Tak kuasa menahan kekecewaan dan amarah karena dihalangi, rombongan pesilat mulai menghujani barikade dengan berbagai benda, termasuk botol, batu, dan kayu. Akibat pelemparan ini, satu personel TNI dilaporkan mengalami luka-luka.
Aksi massa ini merupakan puncak dari kemarahan kelompok pesilat menyusul peristiwa pembacokan terhadap seorang anggota PSHT yang berprofesi sebagai petugas parkir di Jalan Basuki Rahmat, Surabaya, oleh oknum debt collector.
Sebelumnya, lautan massa berseragam serba hitam dan membawa bendera PSHT telah memadati Mapolrestabes Surabaya sejak sekitar pukul 14.30 WIB. Sebuah mobil komando turut hadir, dan seorang orator lantang menyuarakan tuntutan mereka di hadapan aparat kepolisian.
"Kami mengkritik aksi debt collector yang telah melakukan kekerasan kepada saudara kami. Ini adalah kebiadaban premanisme yang berkedok debt collector," tegas orator tersebut, mengutuk tindakan anarkis yang disebutnya dilakukan oleh oknum penagih utang.
Orator itu juga menyoroti sikap arogan para pelaku. "Kami tidak mengganggu ketertiban, tapi mereka seperti jawara, petantang petenteng bawa senjata, membabi buta, melakukan tindakan anarkis ke saudara kami," imbuhnya.
Kelompok pesilat mendesak aparat penegak hukum untuk segera mengusut tuntas kasus pembacokan ini secara objektif dan menjatuhkan hukuman setimpal kepada para pelaku. "Kami percaya hukum yang adil menjaga kepercayaan publik," ujarnya. Sebagian perwakilan massa kemudian melakukan mediasi dengan pihak kepolisian di dalam Mapolrestabes, sementara sisanya tetap menunggu di luar.
Untuk mengantisipasi potensi kericuhan, aparat kepolisian telah melakukan penutupan Jalan Cokroaminoto dan Jalan Teuku Umar. Sejumlah mobil lapis baja pengurai massa, ratusan personel pasukan Dalmas, dan Brimob disiagakan di lokasi kantor debt collector.
Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Luthfie Sulistiawan mengungkapkan bahwa sebanyak 1.839 personel gabungan TNI/Polri diterjunkan untuk mengamankan jalannya aksi. Ia juga menggarisbawahi beberapa hal penting yang perlu diwaspadai.
"Pertama, adanya kemungkinan massa aksi dari daerah lain meskipun hari ini hanya diperuntukkan anggota kelompok silat dari Surabaya," kata Luthfie. Untuk mengantisipasi gesekan, petugas gabungan disebar di sejumlah titik rawan, termasuk perbatasan kota, untuk menghalau massa dari luar daerah.
Luthfie juga meminta jajarannya mewaspadai kemungkinan adanya penyusup di tengah kerumunan massa, terutama mereka yang mengenakan masker, hoodie, atau penutup kepala untuk menyamarkan identitas.
Mengingat sebagian besar anggota kelompok silat yang turun ke jalan masih di bawah umur dan memiliki emosi yang tidak stabil, Kapolrestabes menekankan pentingnya kesabaran bagi para petugas. "Jadi saya berharap, para petugas bisa lebih sabar dan tidak terpancing," pungkasnya, memastikan pengamanan berjalan kondusif.

