Chapnews – Nasional – Musim kemarau panjang yang melanda sebagian besar wilayah Indonesia kini menunjukkan dampaknya yang paling nyata dan memilukan di Imogiri, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Wilayah ini tengah menghadapi krisis air bersih yang semakin parah, memaksa ribuan warga berjuang keras demi setetes air untuk kebutuhan sehari-hari.
Sejak beberapa bulan terakhir, sumber-sumber mata air alami yang selama ini menjadi andalan warga mulai mengering drastis. Sumur-sumur warga pun tak lagi mampu memenuhi kebutuhan, menyisakan dasar yang retak dan kering. Kondisi ini diperparah oleh minimnya curah hujan dan suhu ekstrem yang terus-menerus menyelimuti kawasan tersebut.

Pemandangan pilu kini menjadi rutinitas harian: warga, dari anak-anak hingga lansia, bahu-membahu menarik selang-selang panjang, kadang hingga ratusan meter, dari sumber air yang tersisa ke rumah mereka masing-masing. Upaya ini bukan tanpa risiko; medan yang terjal dan jarak yang jauh menjadi tantangan tersendiri yang harus dihadapi setiap hari.
Aktivitas mandi, mencuci, hingga memasak kini menjadi kemewahan yang sulit didapat. Sebagian warga bahkan harus rela antre berjam-jam atau mengeluarkan biaya lebih untuk membeli air bersih dari tangki swasta yang harganya melambung tinggi.
Krisis air di Bantul ini menjadi pengingat pahit akan dampak perubahan iklim yang kian nyata. Pemerintah daerah setempat dikabarkan tengah berupaya mencari solusi jangka pendek dan panjang, namun warga Imogiri berharap agar hujan segera turun, mengakhiri penderitaan mereka yang telah berlangsung berbulan-bulan dan mengembalikan kehidupan normal di tanah mereka.


