Ads - After Header

80 Selang Nadi Kehidupan: Kisah Unik Warga Bantul Bertahan!

Ahmad Dewatara

Chapnews – Nasional – Di tengah gempuran modernisasi, warga Dusun Kalidadap I dan II, Selopamioro, Imogiri, Bantul, Yogyakarta, masih setia pada tradisi unik untuk memenuhi kebutuhan air bersih mereka. Bukan dengan pompa canggih atau saluran PDAM, melainkan melalui jaringan sekitar 80 selang yang membentang dari sumber mata air alami ‘Sendang Wonosari’. Setiap hari, mulai dari anak muda hingga lansia, mereka berkumpul di bawah rindangnya pepohonan, menanti giliran untuk mengalirkan ‘nadi kehidupan’ ini ke rumah-rumah mereka.

Fenomena ini bukan sekadar rutinitas, melainkan sebuah kearifan lokal yang telah berlangsung puluhan tahun. Air dari Sendang Wonosari mengalir tanpa bantuan mesin, hanya mengandalkan prinsip gravitasi. Warga cukup menyedot ujung selang dengan mulut, memancing air untuk masuk ke dalam pipa plastik, dan selanjutnya, perbedaan ketinggian antara sumber dan rumah akan memastikan air terus melaju, bahkan hingga ratusan meter. Bagi mereka yang belum terjangkau jaringan PDAM, mata air ini adalah tumpuan utama untuk segala kebutuhan: minum, memasak, mandi, hingga ternak.

80 Selang Nadi Kehidupan: Kisah Unik Warga Bantul Bertahan!
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Sekitar 80 selang, dengan panjang bervariasi tergantung jarak rumah, menjadi urat nadi yang menghubungkan Sendang Wonosari dengan permukiman warga. Teguh (27), warga Kalidadap I, adalah salah satu pemilik selang terpanjang, mencapai sekitar 600 meter atau setara dengan 12 gulungan selang 50 meter, meliuk mengikuti kontur perbukitan kapur. Rutinitas berkumpul di sekitar sumber air ini tak pernah absen, biasanya pada pukul 06.00, 08.00, dan 14.00 WIB. Waktu-waktu ini dipilih sebelum sebagian besar debit air dialihkan untuk mengairi lahan pertanian di lereng bawah.

Meski terlihat sederhana, proses mengalirkan air ini memerlukan kesabaran dan ketelitian ekstra. Teguh menjelaskan, setiap sambungan selang harus dilepas terlebih dahulu agar udara yang terperangkap dapat keluar, memastikan aliran air lebih cepat dan lancar. "Kalau nggak gitu, nanti airnya nggak sampai atau ngalirnya lambat. Kalau sudah ngalir, baru sambung lagi," ujarnya kepada chapnews.id. Pengalaman merepotkan sekaligus menggelikan pun tak jarang dialami. Teguh terkekeh saat menceritakan momen ketika bak penampungan air di rumahnya kosong melompong di saat genting. Tak ada pilihan lain selain kembali mendaki ke sumber mata air untuk menyedot selang dari awal. "Iya, repot juga kalau pas seperti itu," kenangnya.

Tantangan terbesar datang saat musim kemarau. Debit air memang tak sebanyak ketika musim hujan, memaksa warga untuk lebih bersabar menunggu giliran karena aliran mengecil. Namun, keterbatasan ini justru memperkuat solidaritas. Tak pernah ada insiden saling berebut, melainkan semangat kebersamaan yang terus terpupuk. Setiap selang telah diberi tanda khusus, memudahkan pemiliknya mengenali miliknya di antara puluhan selang yang saling bersilangan.

Kisah warga Kalidadap ini adalah potret nyata bagaimana masyarakat dapat beradaptasi dan berinovasi dengan sumber daya alam yang ada, menciptakan sistem yang berkelanjutan dan mempererat tali persaudaraan. 80 selang itu bukan sekadar pipa plastik, melainkan simbol ketahanan dan kebersamaan yang terus mengalirkan kehidupan di lereng-lereng perbukitan Bantul.

Also Read

Bagikan:

Ahmad Dewatara

kontributor di ChapNews yang berfokus pada liputan dan analisis Olahraga. Ia secara rutin menyajikan berita terkini, ulasan pertandingan, dan spekulasi transfer di dunia sepak bola global maupun nasional, memberikan pandangan yang tajam bagi para penggemar olahraga.

Tags

Tinggalkan komentar

Ads - Before Footer