Chapnews – Nasional – Sorotan tajam publik terhadap kasus dugaan cibiran nirempati seorang dokter Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) UGM terhadap pasien BPJS Kesehatan yang kemudian meninggal dunia, membuat Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) langsung bergerak cepat. Pihak fakultas kini memberikan pendampingan intensif kepada keluarga almarhum pasien.
Insiden ini mencuat setelah pasien pemilik akun Threads @yurizaltrich dikabarkan meninggal dunia tak lama setelah unggahannya mengenai pengalaman pelayanan BPJS Kesehatan mendapat komentar-komentar sinis dan merendahkan. Salah satu komentar yang menjadi sorotan publik dilayangkan oleh Elda Putri Rahardini, seorang dokter PPDS dari FK-KMK UGM.

Dekan FK-KMK UGM, Yodi Mahendradhata, dalam keterangan resminya pada Rabu (5/8), menegaskan bahwa pihaknya telah mengambil serangkaian langkah serius. Ini termasuk penelaahan mendalam dan pelaksanaan investigasi komprehensif untuk mengungkap fakta di balik peristiwa tersebut.
"FK-KMK UGM juga berkoordinasi erat dengan berbagai pihak terkait guna memastikan seluruh proses pemeriksaan berlangsung secara objektif, transparan, dan menjunjung tinggi asas keadilan bagi semua pihak yang terlibat," ujar Yodi.
Lebih lanjut, Yodi menyatakan komitmen FK-KMK UGM untuk memberikan pendampingan psikologis dan membuka ruang komunikasi yang seluas-luasnya bagi keluarga almarhum. Tujuannya adalah untuk menerima masukan, klarifikasi, serta mencari penyelesaian permasalahan secara profesional, manusiawi, dan berorientasi pada penghormatan martabat pasien dan keluarganya.
Fakultas juga menegaskan komitmen tak tergoyahkan untuk memperkuat lingkungan pendidikan dan pelayanan kesehatan yang aman, inklusif, bermartabat, serta senantiasa menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan etika profesi. Setiap dugaan pelanggaran etika, disiplin profesi, perundungan, kekerasan, pelecehan, atau penyalahgunaan relasi kuasa akan ditindak tegas sesuai ketentuan yang berlaku.
"Sanksi tegas akan dijatuhkan apabila hasil pemeriksaan membuktikan adanya pelanggaran," tegas Yodi.
Sebagai bagian dari upaya perbaikan, FK-KMK UGM juga akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pendidikan klinik. Ini mencakup penguatan supervisi, pembinaan profesionalisme, peningkatan kualitas komunikasi, serta penguatan pendidikan etika profesi, pelayanan yang berpusat pada pasien, dan pembudayaan empati di kalangan calon tenaga kesehatan.
FK-KMK UGM menyampaikan keprihatinan mendalam kepada keluarga almarhum pasien serta permohonan maaf atas keresahan, ketidaknyamanan, dan potensi berkurangnya kepercayaan publik yang timbul akibat beredarnya informasi ini.
"Kami memahami bahwa kualitas pelayanan kesehatan tidak hanya ditentukan oleh kompetensi klinis semata, melainkan juga oleh empati, komunikasi yang baik, penghormatan terhadap martabat pasien, serta profesionalisme setiap tenaga kesehatan," tambah Yodi.
Peristiwa ini bermula pada 22 Juli 2026, ketika akun Threads @yurizaltrich membagikan pengalamannya menunggu delapan jam tanpa mendapatkan ruangan perawatan. Unggahan tersebut, yang tidak menyebut nama rumah sakit karena ia mendaftar melalui BPJS Kesehatan, justru menuai banyak komentar negatif dan menghakimi. Dari penelusuran warganet, beberapa komentar nirempati tersebut berasal dari akun yang diduga milik tenaga kesehatan, termasuk akun @erudarahaadini milik Elda Putri Rahardini, yang kemudian diketahui sebagai dokter PPDS dari FK-KMK UGM yang bertugas di RSUP Dr. Sardjito.
Elda Putri Rahardini sendiri telah meminta maaf dan mengakui komentarnya tidak pantas. Namun, insiden ini semakin memanas setelah pada Sabtu (1/8), pasien @yurizaltrich dikabarkan meninggal dunia, memicu gelombang keprihatinan dan desakan publik agar pihak kampus dan rumah sakit segera bertindak. Kini, baik RSUP Dr. Sardjito maupun FK-KMK UGM telah mengambil tindakan untuk memintai klarifikasi dan menindaklanjuti kasus ini secara serius.

