Chapnews – Nasional – Upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kecamatan Lamba Leda Timur, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), diwarnai ketegangan. Gempa susulan yang mengguncang wilayah tersebut sesaat sebelum detik-detik Proklamasi dimulai pada Senin (17/8) pagi, memicu kepanikan di kalangan peserta dan petugas upacara.
Guncangan seismik itu terjadi saat persiapan upacara sedang berlangsung, menyebabkan sejumlah peserta sempat berhamburan dan pelaksanaan upacara harus ditunda sementara. Namun, semangat nasionalisme tak luntur. Camat Lamba Leda Timur, Rikardus Ronaldo Yasman, mengungkapkan bahwa meskipun sempat panik, upacara tetap dilanjutkan dengan penuh khidmat. "Sebelum pelaksanaan apel sempat panik karena ada gempa susulan, tapi dengan semangat yang kuat dari peserta apel tetap dilanjutkan dengan penuh khidmat," ujarnya.

Mengingat kondisi bencana yang masih berlangsung di wilayah Flores, upacara digelar dengan penyesuaian ketat. Rikardus menjelaskan bahwa rangkaian kegiatan dibuat lebih sederhana, tanpa melibatkan anak-anak sekolah, atraksi hiburan, atau agenda tambahan pasca-upacara. Pembatasan jumlah peserta juga diterapkan demi keselamatan. "Sesuai arahan/instruksi Pemkab, upacara tetap dilaksanakan sesederhana mungkin, tanpa melibatkan anak-anak sekolah, tanpa atraksi dan acara lain, namun tetap dijalankan dengan khidmat dan singkat," terang Rikardus. Ia menambahkan, peserta yang hadir hanya terdiri dari ASN kantor camat, guru, dan kepala desa sekitar.
Kepanikan ini bukan tanpa alasan. Wilayah NTT, khususnya Flores, telah diguncang gempa utama bermagnitudo 7,7 pada 15 Agustus lalu, diikuti oleh rentetan gempa susulan yang mencapai 1.624 kali dengan magnitudo terbesar 6,2. Beberapa guncangan bahkan terasa kuat saat peringatan detik-detik Proklamasi berlangsung di berbagai daerah.
Di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, misalnya, warga merasakan guncangan cukup kuat sekitar pukul 08.48 Wita. Teriakan "Gempa, gempa!" menggema saat mereka berhamburan keluar rumah. Maria, seorang warga Labuan Bajo, mengungkapkan rasa takut yang masih menghantui. "Kami takut, tiap hari masih ada gempa susulan," keluhnya kepada chapnews.id. Warga berharap aktivitas seismik ini segera berakhir agar mereka bisa kembali beraktivitas normal tanpa dihantui rasa cemas.


