Chapnews – Nasional – Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, menjadi episentrum duka mendalam pasca-gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Flores pada Sabtu (15/8) lalu. Hingga Senin (17/8) pukul 15.00 WITA, data dari koordinasi dengan BPBD menunjukkan bahwa total 187 warga menjadi korban, dengan 55 di antaranya dinyatakan meninggal dunia dan 132 lainnya menderita luka-luka. Manggarai Timur tercatat sebagai salah satu wilayah yang paling terpukul hebat akibat bencana ini.
Menyikapi kondisi darurat ini, Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, didampingi Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, meninjau langsung Posko Desa Ronting, Kecamatan Lamba Leda Utara, Manggarai Timur pada Senin (17/8). Kunjungan ini bertujuan untuk memastikan koordinasi penanganan pascabencana berjalan efektif dan memberikan dukungan moral kepada masyarakat terdampak.

Dalam keterangannya, Syafii menegaskan komitmen Basarnas untuk mengoptimalkan operasi pencarian dan pertolongan demi membantu masyarakat yang tengah berjuang. "Kabupaten Manggarai Timur merupakan salah satu wilayah yang cukup parah terdampak gempa. Kami terus berupaya memastikan operasi pencarian dan pertolongan berjalan maksimal untuk membantu masyarakat yang terdampak," ungkap Syafii.
Saat berinteraksi dengan warga di posko pengungsian, Kabasarnas tidak hanya memberikan penguatan psikologis, tetapi juga menyampaikan imbauan keselamatan. Ia meminta masyarakat untuk senantiasa waspada terhadap potensi gempa susulan dan menghindari bangunan-bangunan yang berisiko roboh. Syafii juga menekankan pentingnya sinergi dan kebersamaan lintas unsur dalam menghadapi situasi sulit ini. "Kita harus saling membantu dan saling menguatkan. Dalam kondisi seperti ini, kebersamaan antara pemerintah, petugas SAR, dan masyarakat sangat diperlukan agar proses penanganan dapat berjalan dengan baik," ujarnya.
Selain meninjau posko warga, Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii juga mendampingi Mendagri mengunjungi Posko SAR di wilayah tersebut. Basarnas berkomitmen penuh untuk menjaga operasi pencarian dan pertolongan tetap berjalan 24 jam non-stop di seluruh area yang terdampak bencana.
Pada hari ketiga operasi SAR, Basarnas telah mengerahkan total 119 personel yang tersebar di berbagai kabupaten. Rinciannya meliputi 11 personel di Nagekeo, 5 di Ende, 12 di Manggarai Timur, 21 di Sikka, 9 di Manggarai Barat (ditambah 23 personel dari tim pusat), serta 17 personel di wilayah Reo, Kabupaten Manggarai, bersama dengan kru KN SAR 250. Dukungan udara juga turut dikerahkan dengan 7 kru helikopter HR 3604.
Secara keseluruhan, penanganan bencana gempa ini melibatkan kolaborasi masif dari 711 personel gabungan. Mereka berasal dari berbagai instansi seperti TNI, Polri, BPBD, BMKG, PMI, Kementerian Perhubungan, Pelindo, Pelni, pemerintah daerah, hingga partisipasi aktif dari masyarakat setempat. Kantor SAR Maumere bersama potensi SAR daerah terus mengintensifkan upaya pencarian, evakuasi, dan pemantauan di lapangan, dengan dukungan personel dan sarana yang dikoordinasikan secara terpusat.


