Chapnews – Nasional – Gunung Anak Krakatau (GAK) kembali memuntahkan material abu vulkanik yang cukup tebal pada Rabu (9/9) siang, tepat di tengah upaya pencarian delapan individu, termasuk lima jurnalis, yang dikabarkan hilang kontak di perairan Selat Sunda. Peristiwa erupsi ini menambah kompleksitas dan potensi bahaya bagi tim Search and Rescue (SAR) gabungan yang telah memasuki hari kedua operasi penyelamatan.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten, Al Amrad, menjelaskan bahwa erupsi terjadi sekitar pukul 13.31 WIB. Saat itu, tim Search and Rescue Unit (SRU) 1 sedang melakukan penyisiran menggunakan Kapal Negara (KN) SAR Tetuka 247. Meskipun demikian, Al Amrad menekankan bahwa prioritas utama dalam operasi ini adalah keselamatan dan keamanan seluruh personel yang terlibat. Pencarian akan terus dilanjutkan dengan penyesuaian kondisi di lapangan.

"Kami terus memantau aktivitas Gunung Anak Krakatau. Saat terlihat adanya material debu yang cukup tebal, kami tetap mempertimbangkan faktor keselamatan bagi seluruh personel. Pencarian akan terus dilakukan dengan menyesuaikan kondisi di lapangan," ujar Al Amrad dalam keterangan tertulisnya, Rabu (9/9).
Berdasarkan pantauan cuaca pada hari kedua pencarian, kondisi di wilayah operasi terpantau cerah berawan. Kecepatan angin diperkirakan mencapai 14 knot dengan tinggi gelombang berkisar antara 0,4 hingga 1 meter. Kondisi ini relatif mendukung, namun ancaman erupsi GAK menjadi faktor risiko baru.
Hingga laporan pukul 15.22 WIB yang disampaikan oleh SRU 5 menggunakan Kapal Polisi (KP) Sanjaya, belum ada tanda-tanda keberadaan korban. Tim masih berupaya keras melakukan operasi pencarian melalui titik-titik koordinat yang telah dipetakan dalam SAR Map.
"Sampai saat ini hasil pencarian masih nihil. Kami tidak akan berhenti melakukan upaya pencarian. Setiap perkembangan di lapangan akan terus kami evaluasi untuk menentukan strategi berikutnya. Kami berharap delapan orang yang masih dalam pencarian dapat segera ditemukan," tegas Al Amrad.
Memasuki hari kedua, tim SAR gabungan telah mengerahkan tujuh SRU ke sejumlah sektor pencarian. Sektor 1 disisir oleh kapal RIB 02 Banten dan RIB 03 Lampung dengan total jarak 67 Nautical Mile (NM). KN SAR Tetuka 247 melakukan penyisiran di Sektor 2 dengan jangkauan 68,3 NM, didukung oleh KAL Anyer yang menyisir wilayah serupa sejauh 69,5 NM. Sementara itu, KP Sanjaya beroperasi di Sektor 4 dengan total wilayah penyisiran 67,3 NM. Dua kapal perang, KRI Leuser dan KRI Lepu, juga dikerahkan untuk melakukan pencarian di sektor-sektor yang telah ditentukan.
Operasi pencarian SAR ini melibatkan berbagai pihak, termasuk Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten dan Lampung, USS Pandeglang, USS Merak, TNI, Polri, BPBD, KSOP, Potensi SAR, media, keluarga korban, nelayan, serta masyarakat sekitar. Selain kapal, sarana pendukung yang digunakan untuk mengoptimalkan pencarian meliputi drone thermal, peralatan medis, dan alat komunikasi canggih.
Sebelumnya, sebuah speed boat yang membawa delapan orang, termasuk lima jurnalis, dikabarkan hilang kontak di Perairan Selat Sunda, Kabupaten Pandeglang, Banten. Rombongan tersebut bertolak dari Dermaga Pagedongan, Carita, Pandeglang, pada Senin (7/9) sekitar pukul 14.00 WIB dengan tujuan meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Salah satu jurnalis sempat mengirimkan titik lokasi terakhir sekitar pukul 14.42 WIB. Namun, komunikasi dengan rombongan kemudian terputus sekitar pukul 15.04 WIB. Sejak saat itu, keberadaan mereka belum diketahui, memicu operasi pencarian besar-besaran berdasarkan titik komunikasi dan lokasi terakhir yang teridentifikasi.
Al Amrad merinci delapan orang yang berada di dalam speed boat tersebut. Mereka terdiri dari dua awak kapal, seorang pemandu, dan lima jurnalis. Awak kapal adalah Warta (55) selaku kapten dan Surakman (60) sebagai anak buah kapal (ABK). Heriyanto (49) bertindak sebagai pemandu. Sementara lima jurnalis yang hilang adalah pewarta foto LKBN ANTARA M Bagus Khoirunnas, Ari Basuki dari Merdeka, Yudhis dari iNews, Daus dari Anadolu, serta Donal, seorang pewarta lepas atau freelance.


