Chapnews – Nasional – Presiden terpilih Prabowo Subianto secara terbuka mengakui kebiasaannya untuk tidak selalu terpaku pada naskah pidato yang telah disiapkan oleh stafnya. Pengakuan ini disampaikan Prabowo saat menghadiri puncak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-25 Partai Demokrat di Indonesia Arena, kawasan Gelora Bung Karno, Jakarta, pada Rabu (9/9) malam.
Dalam pidatonya, Prabowo menceritakan bahwa ia sering mendapat peringatan dari stafnya agar tetap berpegang pada teks. "Saudara-saudara sekalian, memang saya selalu diingatkan oleh staf saya, ‘Pak, pakai teks, Pak. Jangan sampai keluar dari teks’," ujar Prabowo di hadapan ribuan kader Demokrat yang memadati arena.

Meskipun demikian, Prabowo menjelaskan bahwa ia memiliki alasan tersendiri untuk terkadang menyimpang dari naskah. Ia menyebut bahwa teks yang disiapkan stafnya, termasuk untuk acara HUT Demokrat, selalu berkualitas tinggi dengan paparan dan infografis yang lengkap. Bahkan, ia sempat menunjukkan tebalnya naskah tersebut kepada hadirin. "Paparannya baik sekali, grafiknya banyak sekali," katanya sambil membolak-balik lembaran teks yang ia pegang.
Namun, Prabowo lebih memilih untuk merangkum esensi dari materi yang ada, dengan harapan tidak ada kesalahan dalam penyampaian. "Mudah-mudahan saya tidak salah bicara. Tapi sebetulnya kalau manusia kalau bikin kesalahan, ya kita minta maaf saja," tambahnya, disambut tawa dan tepuk tangan meriah.
Pesan Persatuan dan Demokrasi
Selain anekdot pribadi, kesempatan tersebut juga dimanfaatkan Prabowo untuk menyampaikan pesan penting mengenai demokrasi dan persatuan. Mengutip siaran pers Badan Komunikasi (Bakom) Pemerintah RI yang dibagikan kepada awak media, Prabowo menekankan perlunya menjaga persahabatan dan kerukunan dalam berdemokrasi, meskipun ada perbedaan pandangan, persaingan, bahkan kritik.
Ia menegaskan bahwa demokrasi Indonesia memberikan ruang bagi berbagai warna dan pandangan. "Ini demokrasi Indonesia. Dan hari ini, di panggung ini, ya inilah demokrasi Indonesia. Macam-macam warna. Bersaing, kritik, menyampaikan saran, memberi rekomendasi. Menyampaikan hal-hal yang mungkin tidak enak untuk disampaikan tapi tetap kita rukun, tetap bersahabat, tetap berkeluarga," tutur Prabowo dengan tegas.
Mantan calon presiden ini juga mengapresiasi perjalanan politik Partai Demokrat yang pernah mengalami pasang surut, dari kemenangan hingga kekalahan. Prabowo secara khusus memuji sikap Partai Demokrat yang tetap menjaga etika demokrasi saat berada di luar pemerintahan. "Partai Demokrat pernah menang, pernah tidak menang. Pernah di puncak, pernah di pemerintahan. Tapi waktu tidak berkuasa, Partai Demokrat tidak caci maki. Partai Demokrat tidak bakar-bakar," pujinya, merujuk pada sikap politik yang konstruktif.
Dukungan Partai Demokrat pada Pemilu 2019 dan 2024 juga tidak luput dari apresiasi Prabowo. Menurutnya, dukungan tersebut merupakan cerminan dari kesamaan cita-cita dan prinsip dalam membangun bangsa. "Karena kita memang punya cita-cita dan prinsip yang sama," pungkas Ketua Umum Partai Gerindra tersebut, mengakhiri pidatonya dengan nada persahabatan dan optimisme.


