Chapnews – Ekonomi – Pemerintah Indonesia secara resmi menggulirkan proyek strategis Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) sebagai manifestasi nyata dari arah pembangunan prioritas yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto. Namun, di tengah optimisme peluncuran ini, Badan Pengendalian Pembangunan dan Investigasi Khusus (Bappisus) langsung mengeluarkan peringatan tegas kepada seluruh pihak agar tidak ada penyimpangan dalam pelaksanaannya, mengingat pembiayaan fasilitas vital ini sepenuhnya bersumber dari anggaran publik.
Realisasi proyek PSEL diposisikan bukan sekadar solusi teknis, melainkan langkah strategis yang mengintegrasikan pilar energi, teknologi, dan pelestarian lingkungan secara terpadu. Lembaga pengawas pembangunan tersebut menegaskan bahwa inisiatif ini merupakan tindak lanjut langsung dari arahan strategis kepala negara untuk mengatasi berbagai tantangan fundamental bangsa.

"Bapak Presiden sangat menaruh perhatian pada empat fundamental pembangunan saat ini, yaitu pangan dan air, energi, teknologi, serta lingkungan," ujar Kepala Bappisus, Aries Marsudiyanto, dalam acara peresmian PSEL Bogor Raya 1 di Desa Galuga, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada Kamis (17/9/2026).
Aries memaparkan bahwa persoalan tumpukan sampah telah menjadi momok mendesak bangsa selama puluhan tahun, menuntut terobosan nyata yang tak kunjung datang. Memasuki hampir dua tahun kepemimpinan Presiden Prabowo, melalui koordinasi lintas kementerian yang berpikir keras, kreatif, dan inovatif, akhirnya berhasil merumuskan solusi terintegrasi yang ditandai dengan groundbreaking fasilitas PSEL ini.
Pengembangan teknologi pengolahan limbah ini dipastikan tidak akan berhenti pada fasilitas yang ada saat ini. Dalam perbincangannya dengan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), Aries mengungkapkan adanya penjajakan teknologi baru untuk mendaur ulang sampah lama menjadi sumber daya energi alternatif, termasuk potensi bahan bakar jenis solar, yang akan segera ditindaklanjuti secara teknis.
Penuntasan krisis sampah yang menahun tersebut dipandang membutuhkan keterlibatan terpadu dari seluruh pemangku kepentingan agar tidak lagi menemui hambatan birokrasi di lapangan. Aries meminta kementerian dan lembaga terkait untuk terus menyatukan langkah operasional demi mengurai persoalan bangsa yang tergolong pelik ini. "Saya mohon kepada seluruh K/L terkait untuk selalu koordinasi, komunikasi, dan kolaborasi supaya sinergis dan harmonis sehingga tercipta terobosan-terobosan yang kemarin menjadi bottleneck," pungkas Aries.


