Chapnews.id – Krisis harga beras yang tengah menghantam masyarakat Indonesia kini memasuki babak baru. Bukan karena minimnya pasokan di tingkat petani, melainkan karena adanya dugaan praktik kotor oleh oknum tidak bertanggung jawab. Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman secara blak-blakan menyebut adanya keterlibatan mafia di balik lonjakan harga beras yang tidak wajar, padahal stok nasional diklaim masih sangat mencukupi.
Fenomena ini memicu kegelisahan luas, mengingat beras merupakan kebutuhan pokok utama masyarakat. Selain harganya yang melambung tinggi, masyarakat juga mengeluhkan sulitnya menemukan beras kualitas premium di berbagai ritel modern. Kelangkaan ini diduga kuat merupakan taktik dari para spekulan untuk menciptakan kepanikan pasar agar harga dapat terus ditekan ke level tertinggi.

Kerugian Rakyat Capai Rp90 Triliun
Dalam konferensi pers yang digelar di Jakarta, Mentan Amran mengungkapkan fakta yang mengejutkan terkait besarnya dampak dari praktik mafia ini. Ia menyebutkan bahwa tindakan manipulasi pasar ini telah merugikan hak-hak rakyat hingga mencapai angka fantastis, yakni Rp90 triliun.
Amran memberikan gambaran nyata mengenai ketidakadilan yang terjadi di lapangan. Ia mencontohkan adanya praktik di mana beras dibeli dengan harga rendah, sekitar Rp13.000 per kilogram, namun kemudian dijual kembali oleh oknum tertentu dengan harga selangit mencapai Rp57.000 per kilogram.
"Bayangkan, harganya Rp13.000 dijual Rp57.000. Adil tidak itu? Itu adalah penipuan terhadap hak rakyat. Kita tidak akan memberikan ruang sedikit pun bagi mafia beras di Indonesia. Kita akan berhadapan langsung dengan mereka," tegas Amran dengan nada bicara yang keras.
Data BPS Perkuat Indikasi Kenaikan Harga
Kecurigaan pemerintah ini sejalan dengan data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Berdasarkan laporan terbaru, harga beras nasional pada pekan ketiga September telah melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET) maupun Harga Acuan Pemerintah (HAP). Kondisi ini menunjukkan adanya anomali di pasar, di mana harga terus merangkak naik meskipun pemerintah menyatakan stok pangan dalam kondisi aman dan melimpah.
Langkah Strategis Pemerintah Menekan Harga
Menanggapi situasi darurat ini, pemerintah menyatakan tidak tinggal diam. Langkah-langkah konkret tengah digeber untuk menstabilkan kembali harga di tingkat konsumen. Salah satu strategi utama yang sedang dijalankan adalah melalui operasi pasar secara masif di berbagai wilayah.
Selain operasi pasar, pemerintah juga terus menyalurkan bantuan pangan secara langsung kepada masyarakat untuk meringankan beban ekonomi. Program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) juga terus digencarkan guna memastikan ketersediaan beras di pasar tetap terjaga.
"Saat ini kami sedang melakukan operasi pasar dan menyalurkan bantuan pangan untuk 33,4 juta orang di seluruh Indonesia. Melalui program SPHP, kami optimis harga akan segera turun dan kembali stabil," pungkas Amran. Pemerintah berkomitmen untuk terus mengawasi rantai distribusi agar tidak ada lagi celah bagi para spekulan untuk mempermainkan harga pangan rakyat.

