Chapnews.id – Kondisi kesehatan masyarakat di Kota Palembang kini tengah berada dalam situasi yang cukup mengkhawatirkan. Berdasarkan data terbaru, jumlah kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di kota ini melonjak drastis hingga menyentuh angka 6.296 kasus. Lonjakan ini terjadi beriringan dengan meningkatnya intensitas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda wilayah Sumatera Selatan pada bulan Oktober ini.
Asap pekat yang dihasilkan dari titik-titik api di lahan gambut dan hutan telah menyelimuti atmosfer kota, membawa partikel berbahaya yang langsung berdampak pada sistem pernapasan warga. Fenomena ini menjadi peringatan keras bagi pemerintah daerah dan instansi terkait mengenai urgensi penanganan kebakaran lahan yang lebih masif sebelum dampak kesehatan masyarakat menjadi semakin tidak terkendali.

Dampak Nyata Asap Karhutla
Peningkatan kasus ISPA ini tidak terjadi tanpa alasan. Asap dari kebakaran hutan mengandung berbagai zat polutan yang dapat mengiritasi saluran pernapasan, mulai dari anak-anak hingga lansia. Berdasarkan pantauan di lapangan, kualitas udara di beberapa titik di Palembang menunjukkan indeks standar pencemaran udara yang berada pada level tidak sehat.
"Kenaikan angka ini sangat signifikan dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Hal ini berkorelasi langsung dengan munculnya kabut asap akibat aktivitas karhutla yang tidak kunjung padam di beberapa titik strategis," tulis laporan kesehatan setempat yang dikutip dari chapnews.id.
Masyarakat dihimbau untuk lebih waspada dan membatasi aktivitas di luar ruangan saat kabut asap mulai terlihat tebal. Penggunaan masker medis maupun masker N95 sangat disarankan untuk meminimalisir paparan partikel halus yang masuk ke paru-paru.
Upaya Penanggulangan dan Mitigasi
Menanggapi situasi ini, pemerintah daerah bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) terus berupaya melakukan pemadaman di titik-titik api. Selain melakukan pemadaman darat, operasi udara juga direncanakan untuk menjangkau area yang sulit diakses oleh tim darat.
Namun, tantangan utama yang dihadapi adalah kondisi cuaca yang cenderung kering dan angin yang cukup kencang, yang membuat api cepat merambat ke area yang lebih luas. Selain upaya pemadaman, langkah mitigasi kesehatan juga mulai diperkuat dengan penyediaan stok obat-obatan di Puskesmas dan rumah sakit di seluruh wilayah Palembang.
Pemerintah juga terus mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran lahan secara sengaja, terutama untuk pembukaan lahan pertanian, guna mencegah siklus tahunan bencana asap ini terus berulang. Jika penanganan karhutla tidak segera dilakukan secara tuntas, dikhawatirkan angka kasus ISPA akan terus merangkak naik dan membebani fasilitas kesehatan di Sumatera Selatan.
Kini, mata publik tertuju pada efektivitas langkah pemerintah dalam menekan angka kebakaran lahan sekaligus melindungi kesehatan jutaan warga yang terdampak polusi asap ini.

