Chapnews.id – Pergeseran perilaku masyarakat dalam mengelola kekayaan kini semakin terlihat nyata, terutama dalam pemilihan instrumen investasi logam mulia. Jika pada era sebelumnya emas identik dengan perhiasan yang dipakai untuk mempercantik diri, kini tren tersebut mulai ditinggalkan oleh generasi muda yang lebih mengutamakan nilai aset murni.
Direktur Pengembangan PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Iding Pardi, mengungkapkan bahwa terdapat perubahan fundamental dalam cara masyarakat, khususnya generasi milenial dan Gen Z, dalam memandang emas. Menurutnya, emas kini tidak lagi dipandang sebagai aksesori fashion, melainkan sebagai instrumen lindung nilai yang harus memiliki likuiditas tinggi.

"Dulu, orang tua kita cenderung membeli emas dalam bentuk perhiasan sebagai cara menabung. Namun, seiring berjalannya waktu, kebiasaan itu bergeser. Generasi muda saat ini merasa perhiasan kurang menarik untuk tujuan investasi. Mereka lebih memilih emas batangan agar nilai investasinya benar-benar murni," ujar Iding dalam acara Capital Market Summit & Expo (CMSE) 2026.
Emas tetap menjadi primadona karena statusnya sebagai aset safe haven. Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan potensi krisis, emas dianggap sebagai pelabuhan aman yang mampu menjaga nilai kekayaan dari inflasi. Selain itu, berkembangnya ekosistem bullion yang memungkinkan emas disimpan, diperjualbelikan, hingga dikonversi ke bentuk digital, semakin memperkuat posisi emas di pasar keuangan.
Menanggapi perubahan gaya hidup masyarakat yang serba digital, Iding menyarankan agar investor muda mulai melirik instrumen Exchange Traded Fund (ETF) emas. Instrumen ini dianggap sangat relevan dengan karakteristik generasi masa kini yang menginginkan segala sesuatu secara praktis, cepat, dan dapat diakses melalui genggaman tangan.
Ia menjelaskan bahwa ETF emas menawarkan kemudahan luar biasa bagi mereka yang sudah terbiasa menggunakan aplikasi perdagangan saham. Dengan ETF emas, investor tidak perlu lagi repot menyimpan fisik emas batangan di rumah atau menyewa safe deposit box yang memerlukan biaya tambahan.
"Anak muda ingin investasi yang mudah. Di Bursa Efek Indonesia, kita sudah mengadopsi digitalisasi penuh. Jika sudah menjadi investor saham, Anda bisa membuka rekening dan melakukan transaksi hanya lewat ponsel. Hal yang sama berlaku untuk emas melalui ETF," tambahnya.
Melalui ETF emas, investor dapat memasukkan aset emas ke dalam portofolio saham mereka secara langsung. Proses jual belinya pun memiliki mekanisme yang serupa dengan saham, yakni melalui aplikasi trading yang sudah ada. Hal ini memberikan fleksibilitas tinggi bagi investor untuk melakukan diversifikasi aset tanpa harus keluar dari ekosistem digital yang mereka gunakan sehari-hari. Dengan demikian, investasi emas kini bukan lagi soal menyimpan barang fisik, melainkan soal mengelola angka di layar ponsel dengan efisiensi tinggi.

