Chapnews – Ekonomi – Harga nikel dunia diprediksi masih akan bergoyang di tahun ini. Perang dagang AS-China yang belum usai dan surplus pasokan menjadi penyebab utama pelemahan harga komoditas tambang strategis ini. Namun, sebuah kabar baik muncul dari dalam negeri.
Direktur Utama PT PAM Mineral Tbk (NICL), Ruddy Tjanaka, mengungkapkan sentimen positif bagi industri nikel Indonesia. Kementerian ESDM memutuskan untuk tidak memangkas kuota bijih nikel yang sebelumnya direncanakan hingga 50%. "Ini menjadi angin segar bagi pasar nikel domestik," tegas Ruddy pada Kamis (1/5/2025).

Penerapan PP No 19/2025 tentang Tarif Royalti Minerba, menurut Ruddy, berdampak luas pada seluruh penambang nikel, termasuk NICL. "Strategi kami adalah meningkatkan efisiensi produksi agar tetap meraih margin optimal," tambahnya.
Terlepas dari tekanan harga, NICL berhasil menorehkan prestasi gemilang. Penjualan pada Maret 2025 mencapai Rp543,91 miliar, melonjak drastis 365,68% dibandingkan Maret 2024 (Rp116,79 miliar). Kenaikan ini juga diiringi peningkatan volume penjualan nikel dari 222.791 wmt menjadi 995.834 wmt, atau naik 346,98%. Keberhasilan ini diraih oleh emiten pertambangan yang sahamnya dikendalikan oleh Christopher Sumasto Tjia melalui PT PAM Metalindo.



