Chapnews – Ekonomi – Ancaman Iran untuk menutup Selat Hormuz kembali mencuat, memicu kekhawatiran global akan lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM). Parlemen Iran disebut-sebut telah menyetujui langkah drastis tersebut sebagai respons atas serangan yang dituduhkan kepada Amerika Serikat (AS) dan Israel. Meskipun ancaman serupa pernah dilontarkan sebelumnya, kali ini situasi terasa lebih serius.
Sekitar 20% pasokan minyak mentah dunia melewati Selat Hormuz. Penutupan jalur vital ini akan berdampak signifikan terhadap stabilitas pasar energi global. June Goh, analis senior Sparta Commodities, menyatakan bahwa risiko kerusakan infrastruktur minyak telah meningkat drastis. Meskipun ada jalur pipa alternatif, ekspor minyak mentah tak akan sepenuhnya terjamin jika Selat Hormuz terblokade. Konsekuensinya, para pengirim akan cenderung menghindari wilayah tersebut.

Proyeksi Goldman Sachs semakin menegangkan. Laporan mereka memperkirakan harga minyak Brent bisa mencapai US$110 per barel jika aliran minyak melalui Selat Hormuz berkurang setengahnya selama sebulan, dan tetap turun 10% selama 11 bulan berikutnya. Namun, bank investasi tersebut masih mengasumsikan tidak ada gangguan signifikan pada pasokan minyak dan gas alam secara keseluruhan. Mereka menambahkan bahwa insentif global akan berupaya mencegah gangguan yang berkelanjutan dan besar-besaran. Sejak konflik dimulai pada 13 Juni, harga minyak Brent telah naik 13%, sementara WTI sekitar 10%. Ancaman Iran ini jelas menjadi sentimen negatif yang perlu diwaspadai.



