Chapnews – Nasional – Jakarta – Suasana hangat dan penuh keakraban menyelimuti NasDem Tower pada hari pertama bulan suci Ramadan, Kamis (19/2), saat Partai NasDem menggelar acara buka puasa bersama. Pertemuan ini menjadi sorotan publik lantaran dihadiri oleh sejumlah tokoh politik nasional dari berbagai spektrum, termasuk Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla, Ketua Harian Partai Gerindra Sufmi Dasco Ahmad, Ketua DPR RI Puan Maharani, hingga mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.
Acara yang dimulai sekitar pukul 17.30 WIB ini, setelah kehadiran Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh, tak hanya dihadiri para elite, namun juga melibatkan anak-anak yatim, menambah nuansa kebersamaan yang mendalam. Surya Paloh dalam sambutannya mengungkapkan rasa sukacita dan terima kasih atas kehadiran para tamu undangan. "Sungguhlah kami bersukacita, berbesar hati atas keringanan langkah dari Bapak dan Ibu semuanya untuk bersedia menghadiri undangan daripada DPP Partai NasDem," ujar Paloh, menyambut hangat para tokoh.

Deretan elite partai politik lain yang turut memeriahkan acara antara lain Wakil Ketua Umum PKB Jazilul Fawaid, Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan, Presiden PKS Al Muzammil Yusuf, dan Bendahara Umum Partai Golkar Sari Yuliati, serta beberapa Anggota DPR RI lainnya. Paloh menekankan bahwa kehadiran beragam tokoh ini menggarisbawahi pentingnya menjaga dan mempererat tali silaturahmi antar-pihak, sebuah nilai yang krusial dalam dinamika politik nasional, terutama di tengah berbagai tantangan yang ada.
Lebih lanjut, di hadapan para hadirin, Paloh mengajak semua pihak untuk memaknai bulan Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan sebagai momentum untuk memperkuat daya tahan diri terhadap berbagai godaan. "Bukan hanya yang menyangkut masalah menahan lapar dan minum, kehausan, tapi berbagai hal-hal yang barangkali bisa kembali mempersucikan semangat dari spirit kita," pungkasnya, memberikan pesan mendalam tentang esensi puasa. Pertemuan lintas partai ini diharapkan menjadi sinyal positif bagi iklim politik yang lebih kondusif dan harmonis di masa mendatang, menunjukkan bahwa perbedaan pandangan tidak menghalangi jalinan persaudaraan kebangsaan.



