Chapnews – Ekonomi – Pasar kripto kembali bergejolak, menghadirkan tantangan sekaligus peluang bagi para investor. Akhir pekan ini, total likuidasi posisi perdagangan aset kripto mencapai angka fantastis, menembus USD1,13 miliar atau setara dengan Rp19 triliun dalam kurun waktu 24 jam terakhir. Gelombang likuidasi ini didominasi oleh posisi long, memaksa para investor yang sebelumnya optimis untuk menutup posisi mereka akibat terjangan penurunan harga.
Data dari CoinGlass mencatat bahwa likuidasi posisi long mencapai nilai USD1,01 miliar, dengan Ethereum (ETH) dan Bitcoin (BTC) menjadi yang paling terpukul, masing-masing mencatatkan likuidasi sebesar USD365 juta dan USD262 juta. Harga Bitcoin sempat menyentuh titik terendah di bawah USD109.400, mengalami penurunan sebesar 2% dalam sehari terakhir. Sementara itu, Ethereum juga melemah hingga mencapai level USD3.900.

Koreksi harga juga melanda aset kripto lainnya. Dogecoin (DOGE) mengalami penurunan lebih dari 4%, XRP melemah 4%, dan Solana (SOL) bahkan ambles hingga 5%. Akibatnya, kapitalisasi pasar kripto secara keseluruhan mengalami penurunan hampir 3%, menjadi USD3,7 triliun.
Menanggapi situasi ini, VP Indodax, Antony Kusuma, memberikan pandangannya. "Volatilitas saat ini memang tinggi, namun investor dapat memanfaatkan kondisi ini untuk melakukan akumulasi strategis, terutama bagi yang berfokus pada investasi kripto jangka panjang," ujarnya di Jakarta, Selasa (30/9/2025).
Antony menekankan bahwa likuidasi besar-besaran ini bukan hanya sekadar risiko, tetapi juga membuka peluang untuk membeli aset kripto di level harga yang lebih rendah. "Data on-chain menunjukkan bahwa cadangan BTC di bursa turun ke level terendah tahun ini, yaitu 2,4 juta BTC. Ini menandakan bahwa kepercayaan investor jangka panjang terhadap Bitcoin tetap solid," pungkasnya. Para investor diimbau untuk tetap tenang dan mempertimbangkan strategi investasi jangka panjang di tengah gejolak pasar kripto saat ini.



