Chapnews – Nasional – Jakarta – Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, memperlihatkan gestur politik yang hangat dengan mengirimkan karangan bunga ucapan selamat kepada Partai Gerindra yang merayakan hari ulang tahun ke-18 pada Jumat (6/2). Sekretaris Jenderal PDIP, Hasto Kristiyanto, mengungkapkan bahwa tindakan ini adalah tugas langsung dari Ketua Umum PDIP, yang ingin menyampaikan apresiasi di momen spesial tersebut.
Hasto menjelaskan, pengiriman bunga ini lebih dari sekadar formalitas; ini adalah refleksi dari tradisi persahabatan yang telah mengakar kuat antara Megawati dan Ketua Umum Gerindra, Prabowo Subianto. "Maka, kami mengucapkan selamat ulang tahun kepada Gerindra. Beliau mengirimkan bunga ke Partai Gerindra atas nama DPP PDIP," ujar Hasto usai sebuah jumpa pers di Jakarta.

Hasto juga menggarisbawahi bahwa Prabowo Subianto, Ketum Gerindra, kerap melakukan hal serupa. Sebagai contoh, saat ulang tahun Megawati pada 23 Januari lalu, karangan bunga dari Prabowo turut menghiasi kediaman Presiden kelima RI tersebut. Ini menjadi simbol persahabatan yang erat antara kedua pemimpin politik tersebut, yang telah menjadi tradisi saling menghormati di antara mereka.
Namun, di tengah suasana akrab tersebut, Hasto juga lantang menyuarakan kritik terkait kebijakan luar negeri Indonesia, khususnya keputusan bergabung dengan inisiatif Board of Peace (BOP). Menurutnya, Indonesia seharusnya tetap teguh pada prinsip politik luar negeri bebas aktif serta mengedepankan semangat Konferensi Asia-Afrika (KAA) yang telah menjadi landasan diplomasi bangsa.
Hasto secara eksplisit mempertanyakan kredibilitas mantan Presiden AS Donald Trump, yang menjadi bagian dari inisiatif tersebut, mengingat rekam jejak intervensi AS di berbagai negara seperti Irak, Suriah, dan Venezuela. Ia meyakini, jika Bung Karno masih hidup, Indonesia tidak akan mengambil langkah tersebut. "Kita harus mempertanyakan kredibilitas dari Presiden Trump," tegas Hasto.
Menurutnya, Bung Karno pasti akan memilih untuk menggalang kekuatan negara-negara Asia, Afrika, dan Amerika Latin guna memperkuat posisi di PBB dan mendorong perdamaian di Timur Tengah, khususnya dalam konflik Palestina-Israel. "Konflik Palestina-Israel itu, melalui kepemimpinan kita, harus didorong untuk duduk bersama dengan menggalang bangsa-bangsa Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Itu jika menggunakan teori dari pemikiran geopolitik Soekarno," paparnya.
Menanggapi polemik seputar partisipasi Indonesia dalam BOP, Menteri Luar Negeri Sugiono memberikan klarifikasi. Ia menegaskan bahwa keikutsertaan Indonesia dalam BoP semata-mata ditujukan untuk memperjuangkan kemerdekaan Palestina. Sugiono menekankan bahwa RI tidak akan ragu untuk menarik diri dari inisiatif tersebut jika tidak lagi sejalan dengan tujuan utama Indonesia, yaitu terciptanya perdamaian berkelanjutan di Gaza dan seluruh Palestina, serta tercapainya kemerdekaan dan kedaulatan penuh bagi bangsa Palestina.
"Ya kalau memang tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan, pertama situasi damai di Gaza sekarang pada khususnya, kemudian situasi damai di Palestina pada umumnya dan akhirnya nanti adalah kemerdekaan dan kedaulatan Palestina, dan saya kira itu trajektori yang kita ingin capai yang kita lihat saya kira koridor-koridornya ada di situ," kata Sugiono di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (3/2), saat ditanya mengenai peluang Indonesia keluar dari BoP. (isn/thr/isn)


