Chapnews – Nasional – Wakil Menteri Haji dan Umroh, Dahnil Anzar, secara terbuka mengakui adanya penurunan signifikan jumlah calon jemaah umroh asal Indonesia. Fenomena ini terjadi di tengah eskalasi konflik yang melibatkan Iran dengan Israel dan Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Menurut Dahnil, pertimbangan utama para calon jemaah adalah faktor keamanan yang semakin tidak menentu di wilayah tersebut.
Berbicara di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta pada Selasa lalu, Dahnil menjelaskan, "Data kami memang ada penurunan ya yang berangkat, karena mempertimbangkan keselamatan dan dinamika konflik itu tadi." Ia menambahkan bahwa pemerintah terus mengimbau calon jemaah untuk menunda keberangkatan mereka demi alasan keamanan.

Dahnil menegaskan bahwa pemerintah mengutamakan keselamatan warga negara Indonesia di atas segalanya. "Karena kan apapun bisa terjadi, kita tidak tahu eskalasi konflik di Timur Tengah seperti apa karena dinamikanya sangat dinamis dan setiap saat mengalami perubahan," ucapnya, menyoroti ketidakpastian situasi geopolitik.
Dalam upaya mitigasi, Kementerian Haji dan Umroh (Kemenhaj) bersama Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) terus aktif melakukan pendampingan bagi jemaah RI yang sedang berada di Tanah Suci atau yang akan kembali. Koordinasi intensif juga dilakukan dengan pihak travel untuk memastikan setiap jemaah mendapatkan pendampingan yang memadai.
Saat ini, diperkirakan ada sekitar 43 ribu jemaah umroh asal Indonesia yang sedang melaksanakan ibadah di Tanah Suci. Dahnil menekankan bahwa angka tersebut merujuk pada jemaah yang sedang beribadah, bukan yang "terjebak" akibat konflik. Situasi ini menunjukkan bahwa meskipun ada penurunan, aktivitas umroh tetap berlangsung dengan pengawasan ketat dari pemerintah.


