Ads - After Header

Gawat! Rupiah Diprediksi Tembus Rp22.000 di 2026

Ahmad Dewatara

Chapnews – Ekonomi – Sebuah prediksi mengejutkan datang dari pakar ekonomi, Ferry Latuhihin, yang memperkirakan nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berpotensi anjlok hingga menyentuh level Rp22.000 per dolar AS pada kuartal III-2026. Pelemahan drastis ini, menurutnya, dipicu oleh perlambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang bisa merosot hingga sekitar 3%, bahkan berisiko terjerumus ke jurang resesi pada kuartal IV-2026.

Ferry Latuhihin, dalam analisisnya pada Selasa (10/3/2026), secara gamblang memproyeksikan bahwa dolar AS berpotensi menguat signifikan, mencapai Rp22.000 pada Juli 2026. Ia menegaskan, prediksinya ini bukan tanpa dasar, mengingat ramalan sebelumnya terkait Rupiah di level Rp17.000 telah menjadi kenyataan. "Proyeksi ini didasarkan pada analisis data dan tren ekonomi yang terjadi saat ini, bukan sekadar spekulasi," ujarnya.

Gawat! Rupiah Diprediksi Tembus Rp22.000 di 2026
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Lebih jauh, Ferry memaparkan skenario suram yang mungkin terjadi: pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2026 bisa melambat drastis hingga sekitar 3%, bahkan berisiko masuk ke jurang resesi pada kuartal IV-2026. Ia juga menyoroti tekanan pada kebijakan fiskal pemerintah. Dengan adanya program Makan Bergizi Gratis (MBG), pemerintah dihadapkan pada keterbatasan anggaran, yang menuntut penentuan prioritas penggunaan dana secara lebih cermat dan selektif.

Ancaman serius lainnya datang dari lembaga pemeringkat internasional. Ferry mengungkapkan bahwa Moody’s, S&P, dan Fitch Ratings telah memberikan peringatan yang semakin mendalam. "Bukan tidak mungkin kita menjadi non-investment grade," tegas Ferry. Ia menjelaskan bahwa saat ini baru outlook atau prospeknya saja yang diturunkan, belum pada tingkat ratingnya. Namun, jika rating Indonesia benar-benar turun, dampaknya bisa sangat parah, memicu capital flight atau pelarian modal besar-besaran dari dalam negeri.

Tekanan terhadap nilai tukar Rupiah saat ini pun dinilai Ferry sangat besar. Ia bahkan berpendapat, tanpa intervensi kuat dan menyeluruh dari otoritas moneter, yakni Bank Indonesia (BI), pelemahan Rupiah berpotensi terjadi lebih dalam lagi. "Sekarang saja, kalau tidak BI all out melakukan intervensi, Rupiah sudah tembus Rp17.000. Kemarin diperdagangkan Rp17.300 di bank-bank, di luar pasar valuta asing utama, yaitu di pasar ritel," jelasnya, menggambarkan kondisi pasar yang rentan.

Ferry Latuhihin menyimpulkan bahwa tekanan ekonomi yang membayangi tidak hanya bersumber dari gejolak global, melainkan juga dari faktor-faktor domestik. Ia secara khusus mempertanyakan mengapa pertumbuhan ekonomi sebesar 5,11% yang sempat dilaporkan justru diikuti dengan penurunan outlook oleh lembaga pemeringkat internasional, mengindikasikan adanya ketidakselarasan atau kekhawatiran mendalam yang belum sepenuhnya terungkap ke publik.

Also Read

Bagikan:

Ahmad Dewatara

Ahmad Dewatara

kontributor di ChapNews yang berfokus pada liputan dan analisis Olahraga. Ia secara rutin menyajikan berita terkini, ulasan pertandingan, dan spekulasi transfer di dunia sepak bola global maupun nasional, memberikan pandangan yang tajam bagi para penggemar olahraga.

Tags

Tinggalkan komentar

Ads - Before Footer