Chapnews – Nasional – Tuberkulosis (TBC) kembali menjadi sorotan setelah rencana uji klinis vaksin TBC di Indonesia mencuat. Data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) per Maret 2025 menunjukkan lebih dari 161 ribu kasus TBC di Indonesia, sementara Jakarta Timur sendiri mencatat angka mengkhawatirkan. Berdasarkan data Sudin Kesehatan Jakarta Timur, hingga Maret 2025 tercatat 2.645 warga positif TBC. Angka ini didapat dari pemeriksaan di 10 Puskesmas, dengan kasus terbanyak ditemukan di Pulogadung, Ciracas, Cakung, dan Pasar Rebo. Dari jumlah tersebut, 324 kasus merupakan anak-anak yang terpapar dari anggota keluarga.
Meskipun angka ini terbilang tinggi, Kepala Sudin Kesehatan Jakarta Timur, Herwin Meifendy, menekankan bahwa hal ini justru menunjukkan keberhasilan program Temukan, Obati, dan Sembuhkan (TOS) yang dijalankan. Program TOS bertujuan untuk mendeteksi dini, memberikan pengobatan, dan memastikan kesembuhan pasien TBC. Herwin menjelaskan bahwa peningkatan kasus merupakan indikator positif dari gencarnya upaya deteksi dini dan pengobatan. Ia juga menambahkan bahwa edukasi kepada masyarakat sangat penting untuk menghilangkan stigma negatif dan mendorong warga yang terinfeksi untuk segera berobat. "Jangan sampai satu orang yang tidak diobati menularkan ke seluruh keluarga dan lingkungannya," tegas Herwin.

Data tahun 2024 menunjukkan tingkat keberhasilan pengobatan TBC di Jakarta Timur mencapai 65 persen, dengan 2.285 warga dinyatakan sembuh. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin juga menekankan pentingnya peran kader Jumantuk (Juru Pemantau Batuk) dalam mendeteksi dini kasus TBC di masyarakat. Dengan upaya kolaboratif antara pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat, diharapkan angka penderita TBC di Jakarta Timur dapat terus ditekan dan angka kesembuhan terus meningkat. Perlu diingat, TBC adalah penyakit yang dapat diobati jika terdeteksi dan ditangani secara tepat waktu.



