Chapnews – Nasional – Jakarta – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) segera merespons gempa bumi berkekuatan magnitudo 7.0 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan mengerahkan satu unit helikopter. Pesawat ini vital untuk mobilisasi logistik, mendukung operasi darurat, serta mempercepat evakuasi korban di wilayah yang terdampak.
Kepala BNPB, Letjen TNI Suharyanto, bersama Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno, dijadwalkan segera bertolak ke Kabupaten Nagekeo, NTT, salah satu daerah paling terdampak. Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menjelaskan bahwa dukungan udara sangat krusial mengingat geografis NTT yang didominasi pulau-pulau, menghadirkan tantangan aksesibilitas yang signifikan. "BNPB telah mengirimkan tim penanganan darurat untuk membantu pemerintah daerah dalam melakukan asesmen cepat, penanganan korban, pendataan kerusakan, dan memastikan kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi," ujar Berton dalam keterangan persnya, Sabtu (15/8).

Sebagai bagian dari upaya respons, BNPB juga telah menyiapkan dukungan logistik dan peralatan tambahan untuk memperkuat penanganan di lapangan. Tim khusus dikerahkan untuk mendata dampak gempa secara komprehensif dan memastikan pasokan kebutuhan pokok bagi warga terdampak.
Data terbaru hingga Sabtu pukul 08.00 WIB menunjukkan satu korban jiwa dan empat orang luka-luka akibat gempa ini. Korban meninggal dunia teridentifikasi sebagai warga Kabupaten Sikka, sementara korban luka tersebar di Kabupaten Sikka dan Nagekeo. Sebelumnya, BNPB sempat melaporkan dua korban meninggal, namun setelah verifikasi di lapangan, angka tersebut diperbarui. "BNPB memohon maaf atas ketidakakuratan laporan awal dan berkomitmen untuk memastikan setiap informasi yang disampaikan telah melalui proses verifikasi ketat," demikian pernyataan dari BNPB.
Selain korban, sekitar 2.000 penduduk di Kabupaten Nagekeo melakukan evakuasi mandiri menyusul guncangan gempa dan peringatan dini tsunami yang sempat dikeluarkan. Di Kota Bima, satu keluarga yang terdiri dari enam jiwa juga tercatat terdampak.
Kerusakan infrastruktur yang teridentifikasi sementara meliputi dua rumah rusak berat, satu rumah rusak sedang, dua rumah rusak ringan, satu gudang Bulog, tiga fasilitas umum rusak ringan, serta enam kantor pemerintahan yang mengalami dampak. Data ini bersifat sementara dan terus divalidasi oleh BPBD bersama instansi terkait.
Gempa magnitudo 7.0 terjadi pada Sabtu (15/8) pukul 04.58.24 WIB. Pusat gempa berlokasi di laut, sekitar 38 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, dengan kedalaman 15 kilometer. Guncangan kuat dirasakan di berbagai wilayah, termasuk Nagekeo, Sikka, dan Manggarai Barat di NTT; Kota Bima dan Kabupaten Bima di NTB; serta Jeneponto, Kepulauan Selayar, dan Maros di Sulawesi Selatan. Peringatan dini tsunami yang sempat menyertai gempa ini dinyatakan berakhir pada pukul 07.31.30 WIB setelah observasi tinggi muka laut oleh BMKG tidak menunjukkan kenaikan signifikan yang membahayakan.
BNPB mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi gempa susulan dan menghindari bangunan yang telah rusak atau retak. Warga juga diminta untuk mengikuti arahan dari pemerintah daerah dan hanya mengacu pada informasi dari sumber-sumber resmi. Di Kabupaten Nagekeo, penanganan situasi masih berlangsung, dengan laporan kemacetan jalan dan pemadaman listrik.
Koordinasi intensif terus dilakukan antara BNPB dengan BPBD Provinsi NTT, BPBD kabupaten/kota terdampak, BMKG, Basarnas, TNI, Polri, serta kementerian/lembaga terkait untuk memastikan penanganan yang cepat dan terintegrasi. Pemerintah pusat menegaskan komitmennya untuk terus menyalurkan dukungan sesuai kebutuhan di lapangan, mencakup penanganan korban, evakuasi, pemenuhan kebutuhan dasar, logistik, peralatan, dan percepatan pemulihan masyarakat terdampak.


