Chapnews – Ekonomi – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia telah menorehkan babak baru dalam kerja sama bilateral Indonesia-Korea Selatan, dengan meresmikan tiga perjanjian strategis di sektor energi dan mineral. Kesepakatan monumental ini meliputi pengembangan energi bersih, pemanfaatan teknologi nuklir, hingga pengelolaan mineral kritis, menandai komitmen kuat kedua negara untuk masa depan energi yang lebih stabil dan berkelanjutan.
Penandatanganan Memorandum Saling Pengertian (MoU) ini berlangsung di Istana Kepresidenan Blue House, Seoul, pada Rabu (1/4) waktu setempat. Momen penting tersebut disaksikan langsung oleh Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, dan Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung, menegaskan level prioritas dan dukungan penuh dari pucuk pimpinan kedua negara.

Tiga pilar utama kerja sama ini tertuang dalam MoU yang mencakup: pertama, kolaborasi di bidang energi bersih; kedua, pengembangan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS); dan ketiga, kemitraan strategis dalam pengelolaan mineral kritis. Fokus pada area-area ini mencerminkan urgensi global terhadap transisi energi dan ketahanan pasokan bahan baku esensial.
Menurut Bahlil, inisiatif ini merupakan langkah strategis yang vital bagi kedua negara dalam memperkuat ketahanan energi di tengah gejolak dan potensi gangguan pasokan global yang kian tidak menentu. "Kerja sama ini sangat penting bagi kedua negara dalam menghadapi kemungkinan risiko gangguan pasokan energi di kawasan," ungkap Bahlil dalam keterangan resminya yang diterima chapnews.id, Kamis (2/4).
Secara lebih rinci, pada sektor energi bersih, spektrum kolaborasi yang disepakati sangat luas. Ini mencakup pengembangan berbagai teknologi mutakhir, mulai dari energi terbarukan, energi nuklir sebagai sumber daya rendah karbon, hidrogen sebagai bahan bakar masa depan, hingga sistem penyimpanan energi yang efisien. Tidak hanya itu, kedua negara juga akan mendorong kerja sama dalam peningkatan efisiensi energi, pengembangan baterai canggih, pemanfaatan bioenergi, teknologi pengolahan sampah menjadi energi, hingga pembangunan jaringan listrik cerdas (smart grid) dan sistem energi terintegrasi untuk wilayah kepulauan.
Kemitraan ini diharapkan tidak hanya mempercepat pencapaian target energi bersih dan net zero emission Indonesia, tetapi juga mengamankan pasokan mineral kritis yang vital bagi industri teknologi tinggi Korea Selatan, sekaligus menciptakan ekosistem energi yang lebih tangguh dan inovatif bagi kedua belah pihak.


