Chapnews.id – Dunia perbankan tanah air mendadak riuh setelah beredarnya kabar burung di berbagai platform media sosial mengenai rencana akuisisi besar-besaran terhadap PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Isu yang mencuat tersebut menyebutkan bahwa pengusaha ternama, Andi Syamsuddin Arsyad atau yang lebih akrab disapa Haji Isam, tengah melakukan langkah strategis untuk mengambil alih kepemilikan saham di bank swasta terbesar di Indonesia tersebut.
Menanggapi kegaduhan yang mulai merambah ke ruang publik ini, manajemen PT Bank Central Asia Tbk segera mengambil langkah cepat untuk memberikan klarifikasi. Pihak BCA secara tegas membantah seluruh spekulasi yang menyebutkan adanya keterlibatan Haji Isam dalam struktur kepemilikan saham perusahaan.

EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F Haryn, memberikan pernyataan resmi untuk meredam keresahan para investor dan nasabah. Dalam keterangannya di Jakarta, Hera menegaskan bahwa informasi mengenai rencana aksi korporasi yang melibatkan pihak luar tersebut sama sekali tidak memiliki dasar kebenaran.
"Menanggapi isu yang beredar di media sosial terkait adanya rencana aksi korporasi tertentu terhadap BCA, dapat kami sampaikan bahwa informasi tersebut tidak benar," tegas Hera dalam keterangan resminya, Sabtu (26/9/2026).
Lebih lanjut, manajemen BCA mengimbau kepada seluruh nasabah, investor, serta masyarakat luas agar tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi kebenarannya. BCA meminta publik untuk selalu bersikap kritis dan hanya merujuk pada sumber-sumber informasi yang valid, baik melalui situs resmi perusahaan maupun kanal media massa yang memiliki kredibilitas tinggi.
Pihak manajemen juga menekankan bahwa dalam menjalankan seluruh aktivitas bisnisnya, BCA selalu berpegang teguh pada prinsip kehati-hatian, menjaga integritas, serta patuh terhadap seluruh regulasi perbankan yang berlaku di Indonesia. Hal ini dilakukan guna menjaga kepercayaan publik yang selama ini menjadi fondasi utama operasional bank.
Jika menilik struktur kepemilikan sahamnya, posisi BCA saat ini masih sangat solid di bawah kendali grup Hartono. Mayoritas saham BCA masih dikuasai oleh PT Dwimuria Investama Andalan (DIA) dengan total 67,73 miliar saham atau setara dengan 54,94 persen. Sementara itu, porsi saham yang dimiliki oleh masyarakat tercatat sebesar 44,64 persen, yang terbagi menjadi saham masyarakat warkat sebesar 2,51 persen dan saham nonwarkat sebesar 42,13 persen.
Perlu diketahui bahwa struktur pengendalian terakhir BCA sempat mengalami penyesuaian menyusul wafatnya salah satu tokoh penting, Bambang Hartono. Berdasarkan keterbukaan informasi yang disampaikan perseroan pada Juli 2026, perubahan status pengendali terjadi setelah Bambang Hartono meninggal dunia.
Sebelumnya, kendali perusahaan dipegang secara bersama oleh Robert Budi Hartono dan Bambang Hartono melalui PT DIA. Pasca kepergian Bambang, tongkat estafet kepemilikan pengendali kini sepenuhnya berada di tangan Robert Budi Hartono. Meski terjadi perubahan pada tingkat pengendali terakhir, persentase kepemilikan Robert di PT DIA tetap stabil di angka 51 persen, yang menjadikannya sebagai pemegang saham pengendali tunggal di BCA. Dengan demikian, kabar mengenai masuknya investor baru seperti Haji Isam dipastikan hanyalah rumor belaka yang tidak berdasar.


