Chapnews – Ekonomi – Limbah peternakan yang selama ini kerap dianggap tak bernilai, kini menjelma menjadi sumber pendapatan baru yang menjanjikan bagi masyarakat di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Melalui inovasi cerdas, kotoran ternak berhasil disulap menjadi pupuk organik bernilai ekonomi tinggi, sekaligus mendorong praktik ekonomi sirkular.
Keberhasilan ini tak lepas dari peran aktif Kelompok Tani di Kalurahan Gombang dan Kalurahan Karangasem, Kepanewon Ponjong, Gunungkidul. Mereka telah membuktikan bahwa limbah peternakan dapat diubah menjadi produk bernilai ekonomi, memberikan dampak positif bagi lingkungan dan kesejahteraan warga.

Hingga pertengahan tahun 2026, kedua kelompok tani ini telah mencapai produksi signifikan, yakni sekitar 14 ton pupuk organik. Dari hasil produksi tersebut, mereka berhasil meraup nilai ekonomi sebesar Rp15,4 juta, dengan masing-masing kelompok mendapatkan tambahan pendapatan sebesar Rp7,7 juta. Lebih dari sekadar pendapatan, program ini juga menciptakan potensi penghematan biaya pembelian pupuk hingga Rp75,6 juta bagi masyarakat setempat.
Mamit Setiawan, Sekretaris Perusahaan PLN EPI, menjelaskan bahwa pengembangan pupuk organik ini merupakan bagian integral dari strategi perusahaan dalam membangun "Desa Berdaya Energi". Program ini dirancang untuk menciptakan nilai ekonomi sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan.
"PLN EPI secara aktif mendorong masyarakat untuk melihat limbah sebagai sumber daya yang berharga dan bernilai ekonomi. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan kesejahteraan, tetapi juga memperkuat praktik ekonomi sirkular yang seimbang antara aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan," ungkap Mamit dalam keterangan resminya yang diterima chapnews.id di Jakarta, Minggu (19/6/2026).
Menurut Mamit, program ini dirancang dengan konsep siklus berkelanjutan yang saling terhubung. Limbah peternakan diolah menjadi pupuk organik, yang kemudian dimanfaatkan untuk membudidayakan tanaman multifungsi seperti Indigofera, Kaliandra, dan Jatiputih. Daun dari tanaman-tanaman tersebut selanjutnya digunakan kembali sebagai pakan ternak, melengkapi siklus produksi yang efisien.
Siklus terintegrasi ini terbukti mampu meningkatkan efisiensi usaha masyarakat, mengurangi volume limbah secara signifikan, serta secara simultan memperkuat produktivitas sektor pertanian dan peternakan.
Capaian gemilang ini menjadi bukti nyata bahwa pengelolaan limbah ternak memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi usaha produktif yang mendukung ekonomi sirkular dan pertanian berkelanjutan. Inisiatif ini merupakan bagian dari Program Desa Berdaya Energi yang diusung oleh PT PLN Energi Primer Indonesia melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) sejak tahun 2024.


