Chapnews – Ekonomi –
JAKARTA – Sebuah terobosan signifikan untuk mengakselerasi transisi energi bersih di Indonesia sekaligus menggerakkan roda perekonomian pedesaan telah diresmikan. PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) bersama Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDT) belum lama ini menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) yang strategis. Kolaborasi ini bertujuan untuk memperkuat rantai pasok biomassa, khususnya dari desa dan daerah tertinggal, membuka peluang besar bagi Badan Usaha Milik Desa (BUM Desa) dan masyarakat lokal untuk mengubah limbah pertanian serta perkebunan menjadi sumber energi yang berharga bagi pembangkit listrik. Lebih dari itu, inisiatif ini diharapkan mampu menciptakan sumber pendapatan baru yang berkelanjutan di pelosok negeri.

Direktur Jenderal Pengembangan Ekonomi dan Investasi Desa Kemendes PDT, Tabrani, menegaskan bahwa kerja sama ini merupakan wujud nyata komitmen pemerintah dalam memberdayakan masyarakat desa. "Kerja sama ini dimaksudkan untuk memberdayakan masyarakat desa dalam upaya memenuhi kebutuhan sumber energi di PLN EPI. Kita ketahui bahwa 75.262 desa memiliki banyak potensi untuk memenuhi kebutuhan energi yang dibutuhkan oleh PLN EPI dalam bentuk biomassa," ungkap Tabrani dalam keterangan pers yang diterima chapnews.id, Minggu (23/8). Ia menambahkan, potensi melimpah ini dapat dioptimalkan melalui peran BUM Desa dan lembaga ekonomi desa lainnya, sehingga aktivitas ekonomi desa tidak lagi terbatas pada produksi komoditas pertanian, melainkan juga berkembang menjadi bagian integral dari rantai pasok energi nasional. "Inisiatif ini ditargetkan sudah mulai berjalan pada tahun 2026," tambahnya.
Senada dengan Tabrani, Direktur Biomassa PLN EPI, Hokkop Situngkir, menjelaskan bahwa keterlibatan masyarakat desa dalam penyediaan biomassa sebenarnya telah berjalan, dengan pasokan yang tersebar di 52 titik Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di seluruh Indonesia. Namun, PKS dengan Kemendes PDT ini diharapkan akan memperluas jangkauan dan menata kemitraan dengan BUM Desa secara lebih terstruktur dan masif. "Hampir semua pasokan biomassa yang sudah kita deploy di 52 titik pembangkit tenaga uap kita di seluruh Indonesia itu membuka celah untuk keterlibatan masyarakat desa secara langsung," kata Hokkop.
Hokkop juga memaparkan bahwa kemitraan ini tidak hanya terbatas pada peran BUM Desa sebagai pemasok biomassa. Lebih jauh, BUM Desa memiliki peluang besar untuk berinvestasi bersama PLN EPI dalam pembangunan fasilitas produksi atau hub biomassa. "BUM Desa bersama PLN EPI itu sebenarnya bisa jadi partnership untuk melakukan investasi bersama, untuk menjadi pembuatan hub ataupun fasilitas produksi bersama yang bisa nanti melakukan pemenuhan untuk co-firing di PLN secara grup," jelasnya, membuka prospek ekonomi baru yang lebih besar bagi desa.
Potensi biomassa di Indonesia sendiri sangat melimpah. Hokkop menyebutkan, setiap tahunnya terdapat sekitar 200 juta ton residu agro, dengan sekitar 80 juta ton di antaranya berpotensi dimanfaatkan sebagai biomassa. Saat ini, sekitar 12 juta ton residu digunakan oleh sektor industri, 8-10 juta ton diekspor, sementara PLN sendiri baru memanfaatkan sekitar 2,5 juta ton untuk program co-firing pembangkitnya. Dengan kolaborasi strategis ini, diharapkan pemanfaatan biomassa domestik dapat meningkat signifikan, tidak hanya mendukung ketahanan energi nasional tetapi juga menciptakan ekonomi hijau yang kuat dan mandiri di pedesaan.

