Chapnews – Ekonomi – Isu mengenai ketahanan energi nasional kembali mencuat di tengah gejolak geopolitik global, khususnya konflik yang memanas di Timur Tengah. Sorotan utama tertuju pada cadangan Bahan Bakar Minyak (BBM) Indonesia yang disebut-sebut hanya mampu bertahan selama 20 hari. Angka ini memicu kekhawatiran publik, apalagi setelah Presiden Prabowo Subianto sempat menyerukan agar cadangan BBM ditingkatkan secara signifikan hingga 90 hari. Lantas, apakah benar setelah 20 hari pasokan BBM akan benar-benar habis?
Ekonom senior dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Tauhid Ahmad, memberikan klarifikasi penting terkait angka tersebut. Menurut Tauhid, pemahaman bahwa stok BBM akan habis setelah 20 hari adalah benar jika selama periode tersebut tidak ada upaya penambahan pasokan sama sekali. Namun, ia menekankan bahwa dalam praktik operasionalnya, Pertamina secara reguler dan berkelanjutan melakukan langkah-langkah stabilisasi pasokan guna memastikan level cadangan tetap terjaga dan tidak mencapai titik kritis.

Level cadangan BBM yang ada saat ini sejatinya telah sesuai dengan regulasi yang berlaku. Merujuk laporan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sebelumnya, sebagian besar jenis BBM di Indonesia berada di atas standar minimum cadangan yang ditetapkan, dengan rentang antara 19 hingga 31 hari untuk produk-produk tertentu. Lebih lanjut, Peraturan BPH Migas Nomor 9 Tahun 2020 tentang Penyediaan Cadangan Operasional Bahan Bakar Minyak secara eksplisit mewajibkan Pemegang Izin Usaha untuk menyediakan Cadangan Operasional BBM dengan cakupan waktu paling singkat selama 23 hari.
Tauhid melanjutkan, konsep "pencadangan" tidak semata-mata berbicara tentang jumlah hari, melainkan lebih luas mencakup kemampuan finansial pemerintah dan Pertamina untuk menyetok. Ini melibatkan berbagai aspek mulai dari penyediaan bahan baku, kapasitas penyimpanan atau gudang, hingga infrastruktur jalur distribusi dan pengapalan.
"Itu artinya, rata-rata kemampuan keuangan kita mencadangkan segitu. Bukan berarti harinya semakin turun, berarti kan dia akan relatif volatilitasnya di angka segitulah," ungkap Tauhid dalam keterangannya di Jakarta baru-baru ini.
"Kenapa tidak bisa bulanan? Karena kemampuan keuangan kita terbatas. Selain itu, kita adalah negara importir," pungkas Tauhid, menjelaskan mengapa Indonesia belum mampu memiliki cadangan BBM dalam jangka waktu yang lebih panjang seperti beberapa negara maju. Ketergantungan pada impor serta keterbatasan anggaran menjadi faktor utama yang membatasi kapasitas pencadangan nasional.


