Chapnews – Nasional – Insiden baku tembak sengit antara prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) kembali mengguncang Kampung Sori, Distrik Aifat Selatan, Kabupaten Maybrat, Papua Barat Daya. Peristiwa tragis yang terjadi pada Minggu (22/3) ini menewaskan dua prajurit Marinir TNI Angkatan Laut dan menyebabkan satu lainnya kritis, memicu keprihatinan mendalam dari berbagai pihak.
Gubernur Papua Barat Daya, Elisa Kambu, segera menyatakan duka cita mendalam atas gugurnya dua putra terbaik bangsa dalam menjalankan tugas negara. "Kami turut berbelasungkawa atas gugurnya dua prajurit yang sedang mengemban amanah negara. Kita semua berharap ke depan, personel yang bertugas dapat lebih berhati-hati agar kejadian serupa tidak terulang," ujar Elisa Kambu di Kota Sorong, Papua Barat, Minggu, seperti dilaporkan chapnews.id.

Dua prajurit yang gugur dalam insiden tersebut diidentifikasi sebagai Prada Marinir AS dari Yonmar 7 dan Prada Marinir ES dari Yonmar 10. Selain itu, Kopda Marinir ES dari Yonmar 7 dilaporkan dalam kondisi kritis dan kini tengah menjalani penanganan medis intensif di RSAL dr R Oetojo, Sorong. Dalam aksi brutal tersebut, KKB juga berhasil merampas dua pucuk senjata api milik prajurit.
Elisa Kambu menjelaskan, kehadirannya bersama Bupati Maybrat di RSAL merupakan wujud nyata kepedulian Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya dan Pemerintah Kabupaten Maybrat. Kunjungan ini bertujuan memberikan dukungan moral serta doa kepada keluarga para korban yang berduka. "Kami hadir untuk memberikan doa dan dukungan kepada keluarga kedua prajurit yang gugur," tambahnya. Gubernur juga menyerukan agar tidak ada lagi tindakan kekerasan yang merenggut nyawa manusia, dengan alasan apa pun.
Sementara itu, Komandan Korem (Danrem) 181/Praja Vira Tama (PVT), Brigjen TNI Slamet Riyadi, menegaskan bahwa pihaknya telah mengambil langkah-langkah strategis pasca-insiden. "Setelah kejadian ini, kami meningkatkan kewaspadaan, melakukan pemetaan wilayah rawan, serta memperketat pengawasan di lapangan," ujar Danrem.
Terkait identitas pelaku penyerangan, Danrem mengungkapkan bahwa pihaknya telah mengantongi indikasi awal. Namun, informasi lebih lanjut akan disampaikan setelah data di lapangan dipastikan akurat dan valid. "Kami sudah memiliki dugaan terhadap pelaku, tetapi akan kami sampaikan setelah informasi benar-benar valid," tegasnya.
Slamet Riyadi juga menjelaskan bahwa TNI akan memperkuat koordinasi antar-satuan, termasuk dengan Satuan Tugas (Satgas) Operasi Habema yang di dalamnya terdapat prajurit dari Batalion Marinir 10. Pembagian sektor operasi antara satuan di bawah Korem 181/PVT dan Satgas Habema diharapkan memungkinkan respons cepat apabila terjadi gangguan keamanan di lapangan. "Koordinasi terus kami lakukan dengan Satgas Habema. Dengan pembagian sektor yang ada, setiap potensi gangguan dapat segera direspons," pungkasnya.
Selain itu, TNI juga mempertimbangkan penambahan maupun pergeseran pasukan untuk memperkuat pengamanan di wilayah rawan. Penguatan intelijen melalui informasi dari masyarakat dan aparat intelijen akan terus dikembangkan guna menjaga stabilitas keamanan di Papua Barat Daya.


