Chapnews – Ekonomi – Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax kembali menjadi sorotan utama publik. Dengan lonjakan signifikan dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter, kebijakan ini berpotensi besar menimbulkan gelombang tekanan baru, terutama bagi sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), termasuk para pengusaha warung tegal (warteg).
Dampak kenaikan ini tidak hanya terbatas pada peningkatan biaya operasional langsung, namun juga dikhawatirkan akan merembet ke harga bahan baku dan pada akhirnya menggerus daya beli masyarakat, yang notabene adalah pelanggan setia warteg. chapnews.id merangkum beberapa poin krusial terkait bagaimana kenaikan harga Pertamax ini dapat memicu efek berantai yang membuat berbagai kebutuhan menjadi lebih mahal, seperti dilansir pada Senin (15/6/2026).

-
Memicu Efek Domino Ekonomi
Mukroni, Ketua Komunitas dan Koperasi Warteg Nusantara (Kowantara), menjelaskan bahwa meskipun harga BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Biosolar tidak mengalami perubahan, lonjakan harga Pertamax tetap memiliki potensi besar untuk memicu efek domino yang meluas dalam aktivitas ekonomi masyarakat. Ia menyoroti bahwa para pelaku usaha yang mengandalkan Pertamax untuk mobilitas dan operasional sehari-hari akan merasakan peningkatan signifikan pada biaya operasional mereka. Peningkatan ini, menurut Mukroni, pada akhirnya akan berdampak pada harga barang dan jasa di berbagai sektor. "Cepat atau lambat, beban biaya tambahan ini pasti akan dialihkan ke harga jual komoditas pangan. Para pengusaha warteg, khususnya, diperkirakan akan segera menghadapi kenaikan harga bahan baku secara bertahap di pasar tradisional tempat mereka berbelanja setiap hari," ungkap Mukroni dalam keterangannya. -
Warung Tegal Terancam Kenaikan Harga Pokok
Mukroni melanjutkan, para pengelola warteg sangat rentan terhadap lonjakan harga berbagai bahan pokok esensial. Komoditas seperti cabai, bawang, minyak goreng, dan aneka sayuran, yang menjadi inti belanja harian mereka di pasar tradisional, diprediksi akan mengalami kenaikan harga. Situasi ini tentu akan menekan margin keuntungan mereka dan berpotensi memaksa penyesuaian harga jual makanan, yang pada akhirnya dapat membebani konsumen.

