Chapnews – Ekonomi – Dunia bertransisi energi, tapi negara-negara Arab tetap menjadi pemain utama di industri minyak bumi. Lima negara ini menguasai hampir seperlima pasokan minyak global. Siapa saja mereka dan apa strategi mereka di tengah gejolak energi dunia? Simak ulasannya!
-
Arab Saudi: Raja minyak dunia ini memproduksi sekitar 9 juta barel per hari (bph) pada April 2025, angka tertinggi di kawasan. Cadangan minyak raksasa Ghawar menjadi kunci kekuatan mereka, memberikan fleksibilitas untuk meningkatkan produksi saat harga melonjak. Program Saudi Vision 2030 juga fokus pada pengembangan tenaga kerja lokal, mengurangi ketergantungan pada pekerja asing.
-
Irak: Dengan produksi sekitar 3,66 juta bph, Irak mengandalkan ladang Rumaila dan West Qurna. Kendati potensi besar, stabilitas politik yang rapuh menghambat pengembangan infrastruktur. Namun, serikat pekerja di Basra terus mendesak peningkatan standar keselamatan dan kesehatan di area pertambangan.
-
Uni Emirat Arab (UEA): Produksi UEA mencapai 2,91 juta bph setelah kenaikan kuota OPEC+ pada April 2025. ADNOC, perusahaan minyak nasional, gencar menerapkan teknologi injeksi CO₂ untuk meningkatkan efisiensi produksi dan menekan emisi. Program "Train for Transition" juga mempersiapkan pekerja migas untuk beralih ke sektor energi terbarukan seperti hidrogen dan surya.
-
Kuwait: Dengan produksi sekitar 2,42 juta bph, sebagian besar berasal dari ladang Burgan, ladang minyak terbesar kedua di dunia. Pemerintah Kuwait menargetkan pengurangan emisi gas buang (flaring) hingga nol pada 2030 dan menawarkan beasiswa geologi dengan kewajiban bagi lulusan untuk mengabdi di daerah asalnya.
-
Qatar: Meskipun produksinya relatif kecil, sekitar 1,32 juta bph, Qatar tetap menjadi pemain penting berkat ekspor LNG-nya yang besar. QatarEnergy meningkatkan metode enhanced oil recovery di ladang Al-Shaheen dan Dukhan untuk memaksimalkan produksi. Uniknya, Qatar menargetkan 30% tenaga kerja hulu migas diisi oleh perempuan pada 2030, angka tertinggi di Timur Tengah.



