Ads - After Header

Rencana Impor KRL Bekas Jepang Batal

Ahmad Dewatara

Chapnews.id – Rencana besar PT Kereta Api Indonesia (Persero) untuk mendatangkan armada Kereta Rel Listrik (KRL) bekas dari Jepang resmi dibatalkan. Keputusan mengejutkan ini disampaikan langsung oleh Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, setelah dirinya menjalani pertemuan dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Jakarta.

Sebelumnya, wacana pengadaan unit KRL bekas ini sempat menjadi sorotan publik. KAI sebelumnya menjadwalkan untuk mengimpor sebanyak 23 rangkaian KRL bekas dari Jepang yang rencananya akan mulai didatangkan pada akhir tahun 2026. Langkah tersebut diambil sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan armada transportasi massal di wilayah Jabodetabek yang terus melonjak. Bahkan, rencana pengadaan unit bekas ini dikabarkan telah mendapatkan lampu hijau dari Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

Rencana Impor KRL Bekas Jepang Batal
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Namun, dalam keterangannya kepada awak media pada Kamis (5/11/2026), Bobby menegaskan bahwa kebijakan perusahaan telah berubah total. Ia memastikan bahwa pihaknya tidak akan lagi mengambil jalur impor untuk unit-unit bekas.

"Kita tidak impor bekas," tegas Bobby dengan lugas saat ditemui di kawasan Istana Kepresidenan.

Keputusan ini diambil dengan mempertimbangkan aspek kenyamanan dan keamanan pengguna jasa transportasi publik. Bobby menekankan bahwa komitmen utama perusahaan saat ini adalah memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat. Menurutnya, pengadaan armada kereta api harus mengutamakan kualitas terbaik demi kepentingan orang banyak.

"Pokoknya buat rakyat, harus yang baru," tambah Bobby untuk mempertegas arah kebijakan baru perusahaan.

Langkah pembatalan impor KRL bekas ini menjadi sangat krusial mengingat kondisi lapangan saat ini. Lonjakan jumlah penumpang KRL di wilayah Jabodetabek telah menyentuh angka yang fantastis, yakni mencapai 1,1 juta orang setiap harinya. Dengan volume penumpang sebesar itu, kebutuhan akan armada yang andal dan minim gangguan teknis menjadi harga mati.

Selama ini, tantangan terbesar KAI adalah menghadapi usia armada yang sudah tidak lagi produktif. Sejumlah rangkaian KRL yang beroperasi saat ini diketahui telah berusia lebih dari 40 tahun. Kondisi tersebut menuntut adanya peremajaan armada secara masif agar risiko kecelakaan atau gangguan perjalanan akibat usia teknis dapat diminimalisir.

Meskipun rencana impor unit bekas dibatalkan, tantangan bagi KAI ke depan justru semakin besar. Perusahaan kini dituntut untuk mencari skema pengadaan kereta baru yang efisien namun tetap mampu mengimbangi laju pertumbuhan penumpang yang sangat pesat. Fokus pada pengadaan unit baru diharapkan dapat memberikan kepastian layanan yang lebih stabil, aman, dan nyaman bagi jutaan komuter di Jabodetabek dalam jangka panjang.

Melalui perubahan kebijakan ini, KAI mencoba mengirimkan pesan kuat bahwa standar pelayanan transportasi publik di Indonesia harus terus ditingkatkan, bukan sekadar mencari solusi murah dengan mengandalkan barang lama. Informasi selengkapnya mengenai skema pengadaan kereta baru ini masih terus dikembangkan oleh manajemen KAI.

Laporan ini dihimpun dari berbagai sumber terkait perkembangan transportasi nasional melalui pemantauan di chapnews.id.

Also Read

Bagikan:

Ahmad Dewatara

kontributor di ChapNews yang berfokus pada liputan dan analisis Olahraga. Ia secara rutin menyajikan berita terkini, ulasan pertandingan, dan spekulasi transfer di dunia sepak bola global maupun nasional, memberikan pandangan yang tajam bagi para penggemar olahraga.

Tags

Tinggalkan komentar

Ads - Before Footer