Chapnews – Ekonomi – Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan tren pelemahan signifikan, tertekan oleh sentimen negatif dari eskalasi konflik di Timur Tengah. Pada penutupan perdagangan Kamis (23/7/2026), mata uang Garuda anjlok 19 poin atau sekitar 0,11 persen, berakhir di level Rp17.936 per dolar AS.
Menurut pengamatan analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi, tekanan eksternal menjadi faktor dominan. Ia menyoroti klaim militan Houthi yang bersekutu dengan Iran mengenai serangan terhadap dua kapal tanker minyak Saudi di Laut Merah, sebuah insiden yang memicu kekhawatiran serius akan gangguan pasokan energi global di sepanjang jalur pelayaran vital Timur Tengah.

"Kelompok Houthi, lanjut Ibrahim dalam risetnya, secara spesifik menargetkan kapal tanker Saudi ENCELA dan LAYLIA. Mereka menuduh kedua kapal tersebut melanggar blokade maritim yang baru diumumkan," tulis Ibrahim, mengutip klaim dari kelompok tersebut.
Hingga berita ini diturunkan, otoritas Saudi belum memberikan konfirmasi resmi mengenai kerusakan yang diakibatkan. Namun, insiden ini secara jelas menandai babak baru eskalasi konflik yang berpotensi serius mengancam infrastruktur energi global dan jalur pelayaran internasional.
Serangan ini bukan tanpa preseden. Sebelumnya, Houthi telah mengeluarkan peringatan akan memblokir pelayaran yang berafiliasi dengan Saudi melalui Selat Bab el-Mandeb, sebuah jalur vital yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden, sekaligus menjadi salah satu koridor transit energi tersibuk di dunia. Jika gangguan ini berlanjut, konsekuensinya bisa fatal: kapal tanker terpaksa memutar rute jauh melalui ujung selatan Afrika, yang secara signifikan akan memperpanjang waktu tempuh dan melambungkan biaya pengiriman.
Di sisi lain, ketegangan di kawasan ini semakin diperparah oleh aktivitas militer AS. Pentagon baru saja menuntaskan serangkaian serangan udara ke-12 kalinya secara berturut-turut terhadap target-target di Iran. Aksi ini kian menambah lapisan ketidakpastian yang menyelimuti lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz, jalur strategis lain yang tak kalah krusial.
Garda Revolusi Iran sendiri melaporkan adanya insiden ledakan di jalur pelayaran yang diduga telah dipasangi ranjau, tepatnya di selatan Selat Hormuz. Menurut klaim mereka, ledakan tersebut menyebabkan salah satu dari tiga kapal tanker minyak terbakar hebat, sementara dua kapal lainnya terpaksa berbalik arah demi menghindari bahaya lebih lanjut. Peristiwa-peristiwa ini secara kolektif menciptakan iklim ketidakpastian yang mendalam, membebani kinerja mata uang seperti rupiah di pasar global.


