Ads - After Header

Rupiah Perkasa Sepekan! Ancaman Fiskal RI Mengintai?

Ahmad Dewatara

Rupiah Perkasa Sepekan! Ancaman Fiskal RI Mengintai?

Chapnews – Ekonomi – Nilai tukar rupiah berhasil menorehkan kinerja impresif dengan menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dalam kurun waktu sepekan terakhir. Berdasarkan data Bloomberg yang dihimpun chapnews.id, meskipun pada penutupan perdagangan Jumat (13/2/2026) rupiah di pasar spot sempat melemah tipis 0,05 persen ke level Rp16.836, namun secara akumulatif mingguan mata uang Garuda ini tercatat menguat signifikan 0,23 persen dari posisi Rp16.876 pada Jumat sebelumnya.

Tren positif serupa juga tercermin pada kurs referensi Jisdor Bank Indonesia (BI). Rupiah berhasil menguat 0,25 persen dalam sepekan, mencapai level Rp16.844 per dolar AS, meskipun secara harian sempat mengalami koreksi minor sebesar 0,10 persen.

Rupiah Perkasa Sepekan! Ancaman Fiskal RI Mengintai?
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Pengamat mata uang terkemuka, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa pergerakan rupiah saat ini berada dalam pusaran sentimen global dan domestik yang saling tarik-menarik. Dinamika ekonomi di Amerika Serikat dan kondisi fiskal dalam negeri menjadi dua faktor utama yang memengaruhi fluktuasi nilai tukar.

Dari kancah global, Amerika Serikat menyajikan data ekonomi yang kontradiktif. Laporan penjualan ritel bulan Desember menunjukkan pelemahan, mengindikasikan adanya pendinginan dalam belanja konsumen. Namun, kejutan datang dari sektor ketenagakerjaan bulan Januari yang justru menunjukkan kekuatan tak terduga. Data Nonfarm Payrolls (NFP) melonjak drastis sebesar 130.000, jauh melampaui ekspektasi pasar yang hanya 70.000. Tingkat pengangguran AS juga mencatatkan penurunan tipis dari 4,4 persen menjadi 4,3 persen, diiringi kenaikan pendapatan rata-rata per jam sebesar 0,4 persen secara bulanan (MoM).

Sementara itu, dari ranah domestik, sorotan pasar tertuju pada kondisi fiskal Indonesia. Ibrahim Assuaibi secara khusus menyoroti lonjakan belanja negara yang signifikan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026. Menurutnya, hal ini berpotensi memengaruhi persepsi investor terhadap stabilitas nilai tukar rupiah ke depan.

"Tekanan fiskal Indonesia makin terasa seiring membengkaknya belanja negara dan besarnya kewajiban pembayaran utang pemerintah, di tengah penerimaan yang belum sepenuhnya pasti," ungkap Ibrahim pada Jumat (13/2/2026) kepada chapnews.id, menggarisbawahi tantangan yang harus dihadapi pemerintah dalam menjaga keseimbangan anggaran dan kepercayaan pasar.

Also Read

Bagikan:

Ahmad Dewatara

Ahmad Dewatara

kontributor di ChapNews yang berfokus pada liputan dan analisis Olahraga. Ia secara rutin menyajikan berita terkini, ulasan pertandingan, dan spekulasi transfer di dunia sepak bola global maupun nasional, memberikan pandangan yang tajam bagi para penggemar olahraga.

Tags

Tinggalkan komentar

Ads - Before Footer